A Very Bad Dream

Written on

Saturday, 16 March 2013


Last night I had a very bad dream. A very bad dream. A VERY BAD DREAM.

Di dalam mimpi itu aku divonis terkena penyakit mematikan, dan hidupku tinggal beberapa hari lagi. Penyakit sejenis spinocerebellar ataxia yang menyerang Kitou Aya sampai merenggut nyawanya. Tetapi penyakitku lebih ganas, karena saat dokter memvonisku, ia bilang bahwa hidupku tidak akan lama lagi, hanya tinggal beberapa hari tersisa. Berani-beraninya dokter itu mendahului Tuhan dengan meramalkan umurku. Kalau Aya melemah secara bertahap dan dalam waktu yang lama, penyakitku ini sama sekali tidak berbelas kasihan padaku untuk menikmati hidup lebih lama lagi, karena ketika saatnya tiba aku akan tiba-tiba melemah dan dalam beberapa menit aku akan mati. Mati...


Aku sangat ketakutan.


Menghadapi kematian bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terlebih jika kita tahu kapan kita akan mati. Menghilangkan rasa takut dan menenangkan diri sendiri. Hanya dua hal itu yang dapat aku lakukan.


Takut akan dikubur, takut akan dosa yang sudah menumpuk, dan takut akan siksa neraka. Aku sangat takut. Beberapa hari tidaklah cukup untuk bertaubat mengurangi dosa.


Aku bingung kenapa aku bisa terkena penyakit itu. Tapi yah... Aya juga begitu. Dia tidak mengerti kenapa penyakit gila itu bisa hinggap padanya.


Suatu ketika, saat kematianku sudah semakin dekat, aku sedang bermain komputer. Tiba-tiba mama dan papa datang menghampiriku. Mama memelukku dan mencium pipiku. Aku tahu mereka ingin menemaniku. Lalu aku bertanya kepada papa, "Pa, berapa lama waktu pas dina kesakitan nanti?". Dan Papa menjawab, "lima menit..."


Hatiku seperti tertancap tombak saat mendengar dua kata itu. Kepalaku sepeti mau pecah. Aku benar-benar tidak ada harapan lagi. Aku akan mati sia-sia dan mendapat siksaan di neraka. Aku tidak punya waktu untuk memohon ampun kepada Allah. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku ingin menangis, aku ingin teriak, sesedu-sedunya, sekuat-kuatnya. Bahkan jika aku mati karena menangis dan teriak, aku akan lebih ikhlas.


Kemudian mataku terbuka. Aku terbangun.


Ternyata itu hanyalah mimpi buruk.


Mulutku terbuka, dan napasku saling memburu, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menenangkan paru-paruku. Dadaku sangat sesak. Tubuhku meriang. Aku merasakan keringat mengucur dari kulitku. Mimpi tadi masih tergambar jelas di benakku. Aku mulai sesenggukan, tapi aku mencoba menahannya. Aku membalikkan badan ke kanan, memeluk lutut, dan beristighfar berlang-berulang.


Ya Allah, terima kasih. Terima kasih masih memberiku waktu. Terima kasih.

You Might Also Like

0 comments