Tuesday, 31 December 2013

...

Written on
Monday, 31 December 2013

Hari kedua.

Aku terbangun jam 1 siang. Aku tak heran, mengingat aku baru bisa tertidur pada jam 4 pagi. Sang karma kembali bersuara, mengingatkanku bahwa aku telah hidup dalam penjara, untuk seterusnya. Ah, untuk apa aku bangun? Tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, juga tidak ada kemungkinan untuk keluar.

Hari ini seharusnya aku pergi ke rumah Widia untuk merayakan tahun baru. Bakar-bakar, melihat kembang api di Lapangan Merdeka atau Lapangan Benteng, pergi ke pantai atau sekadar ke cafe untuk mengobrol. Tersenyum dan tertawa bersama. Namun itu semua sekarang hanyalah sebuah janji yang ternyata tidak bisa aku tepati. Aku harus tetap di sini, di kamar ini.

Mama menyuruhku untuk pergi ke mall bersama Pani. Untuk apa? Ucapan Mama hanya menambah perih di batinku. Aku terkurung di sini. Cuma perangkat berlayar ini yang menjadi penghabis waktuku. Tapi aku kembali mati saat benda ini kehabisan tenaga.

Aku menelusuri seluruh kamar, memaksa otakku berpikir untuk menemukan satu hal yang bisa kulakukan. Aku membuka laci, mengambil dua buah buku tebal tentang Plymouth University. Sudah kuduga, aku akan merasa muak saat sampai di halaman kesekian. Lalu aku membuka laci lain, mengambil komik Conan yang belum kubaca. Sial, aku terlalu cepat menyelesaikannya. Ini masih sore!

Kembali dengan perih yang semakin terasa, aku merebahkan diri. Rab, jika Dina boleh bertanya, kapan ini akan berakhir? Sekarang jam 4.11 pagi. Aku benar-benar tak mengantuk. Selain karena aku mengetik ini, aku juga sempat tidur selama 2 jam di jam 8 malam tadi. Dan setelah selesai mengetik ini, aku akan kembali berjuang dalam bertahan menghadapi penyakit tidur, juga penyakit batin.

...

Written on
Sunday, 30 December 2013

Hari pertama.

Seharusnya aku pergi ke Lapangan Merdeka untuk latihan, seperti biasa. Namun sang karma tak mengizinkanku. Dia memberlakukan sistem asrama padaku. Kehidupan di dalam penjara dimulai. Aku bingung harus melakukan apa di kamar ini. Hatiku rasanya perih. Mama mengajakku keluar untuk pangkas dan memperbaiki tas dan sepatu. Syukurlah, tiga jam berlalu. Jam-jam berikutnya aku lewati dengan penuh kefrustrasian.

Air mataku terlalu mudah melepaskan diri. Aku susah bernapas. Aku semakin susah untuk mati sementara.

Don't Worry, I'm Used To

I'm used to holding back tears with a sweet smile. No matter how painful the tears feel or how far it streams down my face, it can never breeze my lips.