Tuesday, 31 December 2013

...

Written on
Monday, 31 December 2013

Hari kedua.

Aku terbangun jam 1 siang. Aku tak heran, mengingat aku baru bisa tertidur pada jam 4 pagi. Sang karma kembali bersuara, mengingatkanku bahwa aku telah hidup dalam penjara, untuk seterusnya. Ah, untuk apa aku bangun? Tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, juga tidak ada kemungkinan untuk keluar.

Hari ini seharusnya aku pergi ke rumah Widia untuk merayakan tahun baru. Bakar-bakar, melihat kembang api di Lapangan Merdeka atau Lapangan Benteng, pergi ke pantai atau sekadar ke cafe untuk mengobrol. Tersenyum dan tertawa bersama. Namun itu semua sekarang hanyalah sebuah janji yang ternyata tidak bisa aku tepati. Aku harus tetap di sini, di kamar ini.

Mama menyuruhku untuk pergi ke mall bersama Pani. Untuk apa? Ucapan Mama hanya menambah perih di batinku. Aku terkurung di sini. Cuma perangkat berlayar ini yang menjadi penghabis waktuku. Tapi aku kembali mati saat benda ini kehabisan tenaga.

Aku menelusuri seluruh kamar, memaksa otakku berpikir untuk menemukan satu hal yang bisa kulakukan. Aku membuka laci, mengambil dua buah buku tebal tentang Plymouth University. Sudah kuduga, aku akan merasa muak saat sampai di halaman kesekian. Lalu aku membuka laci lain, mengambil komik Conan yang belum kubaca. Sial, aku terlalu cepat menyelesaikannya. Ini masih sore!

Kembali dengan perih yang semakin terasa, aku merebahkan diri. Rab, jika Dina boleh bertanya, kapan ini akan berakhir? Sekarang jam 4.11 pagi. Aku benar-benar tak mengantuk. Selain karena aku mengetik ini, aku juga sempat tidur selama 2 jam di jam 8 malam tadi. Dan setelah selesai mengetik ini, aku akan kembali berjuang dalam bertahan menghadapi penyakit tidur, juga penyakit batin.

...

Written on
Sunday, 30 December 2013

Hari pertama.

Seharusnya aku pergi ke Lapangan Merdeka untuk latihan, seperti biasa. Namun sang karma tak mengizinkanku. Dia memberlakukan sistem asrama padaku. Kehidupan di dalam penjara dimulai. Aku bingung harus melakukan apa di kamar ini. Hatiku rasanya perih. Mama mengajakku keluar untuk pangkas dan memperbaiki tas dan sepatu. Syukurlah, tiga jam berlalu. Jam-jam berikutnya aku lewati dengan penuh kefrustrasian.

Air mataku terlalu mudah melepaskan diri. Aku susah bernapas. Aku semakin susah untuk mati sementara.

Don't Worry, I'm Used To

I'm used to holding back tears with a sweet smile. No matter how painful the tears feel or how far it streams down my face, it can never breeze my lips.

Friday, 29 November 2013

The Dearest Friend, Irsan Hyuga

Hi!

Sekarang aku mau curhat tentang mimpi aku tadi malam, eh, tadi pagi, eh, apa tadi malam ya lebih tepatnya...? Ah ya sudahlah, pokoknya mimpi sebelum aku bangun hari ini.

Kalian tau... aku lagi rindu sama salah seorang temenku. Temen dulu, pas masih SMK.

Rindu? Jumpain dong...
Udah nggak bisa jumpa lagi...
Kenapa?
Dia udah nggak ada wujudnya.
Maksudnya?

Yeah... Temenku itu udah dipanggil duluan oleh Yang Maha Memiliki. Dia udah pergi, ninggalin dunia ini, selama-lamanya. 

Namanya Irsan, nama lengkapnya Irsan Sabaruddin Limbong, nama fesbuknya Irsan Hyuga. Orangnya item, pake kacamata yang kacanya bisa lepas kalo kena bentur (tapi ajaibnya bisa dipasang lagi), idungnya condong ke pesek, bibirnya tebel setebel alisnya, matanya terkesan sipit, bagian atas idungnya putih karena nggak pernah ngelepas kacamata kecuali lagi berhubungan sama air, rambutnya item dengan model ikal pendek yang dibiarin tumbuh seadanya, badannya kira-kira setinggi aku (eh, lupa deng aku dia seberapa tinggi dulu, mungkin kalau dia masih ada pasti bakalan jadi lebih tinggi) dan montok, haha... nggak kurus, nggak gemuk.

Thursday, 28 November 2013

Jangan Larang Aku

Untuk kamu, yang tak lagi menginginkan keberadaanku.

Jika aku memang terkesan bodoh, biarkan aku tetap menjadi bodoh sampai aku lelah dan tersadar.

Setidaknya, jangan larang aku.

Jangan larang aku untuk tetap seperti ini;

mencintaimu,
merindukanmu,
mendambakanmu,
menantimu, dan
mengingatmu,

sampai tiba saatnya nanti, ketika hatiku tak lagi menginginkanmu, ketika otakku tak lagi terpikir akanmu.


Tuesday, 26 November 2013

Kehilangan

Ketika kehilangan itu menjadi sebuah hal mutlak, setiap kenangan dan harapan pun hanya menjadi pelengkap: pelengkap derita dalam rasa.

Kehilangan.

Siapa manusia yang tak pernah mengalaminya?

Aku pernah, tentu saja. Berkali-kali, bahkan.

Kehilangan hape, kehilangan uang (baru saja kualami), kehilangan pacar, kehilangan sahabat, kehilangan rasa, kehilangan kucing, kehilangan makanan, kehilangan pegangan, kehilangan percaya diri, kehilangan jati diri, kehilangan flashdisk (terjadi dua kali, sialnya), kehilangan data, kehilangan pulsa, kehilangan SIM Card, kehilangan buku (eh, pernah tidak ya...), kehilangan headset--milik temanku, kehilangan arah (nyasar), kehilangan ikat rambut yang sangat kusayangi (susah untuk mendapatkan ikat rambut model begitu), kehilangan gebetan, kehilangan teman, kehilangan partners, kehilangan kepercayaan, kehilangan kasih sayang, dan kehilangan-kehilangan tragis dan menyedihkan lainnya yang aku lupa dan tidak dapat kuingat.

Kamu pasti juga pernah kehilangan hal-hal seperti itu, kan?

Sakit, bukan?

Saturday, 23 November 2013

Itching Bumps

Hi, Ladies and Gentlemen.

I would like to show off something. On my arm. Right arm. Three small bumps have been peeping out on it, and also reddening. I didn't know what caused it. Bugs, perhaps?

Ugh, the bottom line is, it's itchiiinnnggggggg!

(There was a photo here)


P.S.:
Hahaha... What an unimportant post.

Friday, 22 November 2013

A Hug That Was Never Conveyed

Kita berjumpa kembali.

Kamu, seperti biasa, tak menyadari atau bahkan tak peduli.
Aku, seperti biasa, gelisah, menyembunyikan rasa di balik wajah. Lalu satu persatu pijakanku meruntuh, meluruh, menenggelamkan ke dalam ruang hampa yang tak berasa. Berjarak, sangat jauh, tak lagi tersentuh.

Tak bisakah aku memelukmu, sekali saja?
Hanya agar kau tahu bagaimana berantakannya detak jantungku setiap kita bertemu.

Seperti biasa, Kita akan terus seperti ini.
Tapi mungkin hanya aku saja yang seperti ini tanpa pernah akan kau sadari.

Aren't I?






Aku perempuan bodoh, ya, Sayang?






Thursday, 21 November 2013

For You Who Never Gives A Heck ♥ 1

"Mencintaimu, barangkali aku memang tidak sengaja. Namun tetap saja, aku rela. Namun untuk melupakanmu, aku tidak bisa."

"Melepaskan sesuatu/seseorang yang bahkan belum sempat dimiliki? Barangkali kamu bermimpi. Bangun dulu, lalu usahakan lagi."

"Dalam hatiku, gemuruh rindu padamu tidak pernah tahu malu; muncul sesering yang ia mau."

"Pada rindu yang tak pernah tahu waktu, telah kutitipkan berbagai doa kebaikan untukmu."

"Aku sama sekali tak bisa menghilangkan rindu. Aku hanya bisa sedikit mengendalikannya, dengan mengirimkan doa-doa."

"Bila kamu ada, aku akan baik-baik saja. Kupastikan, aku akan baik-baik saja, walau mungkin sebenarnya sedang tidak."

"Semoga sekelumit tentangku, masih selalu ada dalam ingatanmu; walau jarak antara kita sudah begitu jauh."

"So, you think love is simple? How about if we love each other, but we can’t be together? No, somehow, love isn’t that simple."

"Aku manusia biasa. Aku sering sekali salah. Aku tidak sempurna. Namun ketika kukatakan aku mencintaimu tanpa celah, aku berkata sejujurnya."

"Bila sungguh cinta, ungkapkanlah. Karena memendamnya dalam diam tidak akan berarti apa-apa baginya."

Tuesday, 19 November 2013

Saw You, Again

Hi, Sayang. Bagaimana harimu hari ini? Menyenangkankah?

Alhamdulillah, hari ini aku bisa kembali melihatmu.

Apakah kau sadar, Sayang, kita sudah dua minggu tidak bertemu? Apakah kau juga merasakan waktu begitu cepat berlalu seperti aku merasakannya? Dan apakah kau masih ingat bahwa kau melihatku sedang berdiri di depan kelasmu saat terakhir kita bertemu? Ya, aku tahu, Sayang, kau tidak mau menemuiku saat itu.

Jadi, semenjak saat itu, semenjak kau mengeluhkan keagresifanku, aku telah memutuskan untuk tidak lagi menemuimu. Aku tidak akan mendekati sosokmu, aku tidak akan berbicara padamu, dan aku tidak akan memaksamu untuk berbicara padaku. Seperti maumu, Sayang. Seperti maumu. Namun, jangan kira karena aku berhenti menemuimu lagi, aku juga akan berhenti melihat dirimu. Tolong jangan keluhkan itu, Sayang, karena itu adalah hakku. Aku berhak untuk melihat siapapun yang ingin kulihat, karena kedua mata ini adalah milikku. Bukan begitu, Sayang?

Monday, 18 November 2013

It's Love, Yeah

"Love, it happens in the blink of eye.
One moment you're enjoying your life and the next you're wondering how you ever lived without it."

Love is like quick-sand.
Once you fall in it, it's hard to get out.

Sunday, 17 November 2013

That's Me, Yeah

'Sampek jam dua aja lah,'
itulah batinku saat sedang bersiap-siap untuk duduk di depan komputer; online.

Tapi, itulah aku.

Sekarang bacaan di sudut kanan bawah layar komputerku menunjukkan 4:13 AM. Berarti, sudah lebih dari 4 jam waktu berlalu. Dan aku masih duduk di depan komputer--dengan kaki kiri terangkat di atas bangku--dengan setia.

Itulah aku. Layaknya orang Indonesia pada umumnya, selalu menggunakan sistem jam karet.

Hei, aku mendengar lantunan orang mengaji.

Friday, 15 November 2013

Raffi Ahmad

YKS...

Gila.

Benar-benar gila.

Yuk Keep Smile.
Itu acara... judulnya memang bisa dipertanggungjawabkan.

Malam ini aku sukses dibuat 'mati ketawa' oleh mereka. Untunglah aku tidak melewati episode malam ini, padahal aku sudah sangat jarang menonton acara favoritku itu karena aku lebih tergoda akan internet. Entah kenapa, sekitar jam 9 tadi aku berpaling dari acara menonton Crazy Little Thing Called Love di komputer dengan adikku, lalu aku duduk di depan TV untuk menyaksikan Wendi cs. Oh, mungkin aku tertarik karena mendengar mereka berbicara tentang jujur atau nggak jujur. Ternyata yang sedang main di segmen itu adalah Olga, Raffi dan Kiwil. Mereka disuruh untuk bercerita, lalu seseorang yang tidak kuketahui siapa (karna nggak nonton dari awal) menyatakan apakah mereka jujur atau tidak. Mungkin orang itu bisa melihat kejujuran seseorang.

Thursday, 14 November 2013

Then What?

Kita sudah saling tahu sejak tahun lalu. Saat pesan singkatmu menggetarkan handphone-ku untuk pertama kalinya, saat tulisan dengan penuh tawa itu memenuhi kotak masuk ponselku; demi bumi dan langit, aku tak pernah menyangka kamu, si songong yang tak kusukai, akan menyapaku.

Hampir setiap malam kamu menjadi bagian dalam hari-hariku, jadi tawa yang membawa damai dalam tidur malamku. Tak hanya itu, kau dan aku hampir selalu terjaga hingga subuh.

Terlalu terburu-burukah jika aku mencoba menyebut ini cinta? Jika terlalu tergesa-gesa, lalu apa namanya perasaan tak ingin melepaskan meskipun kutahu kamu tak mungkin berada dalam genggaman?

Wednesday, 13 November 2013

Temodemo no Gifuto

Hi! Aku sedang makan sore, nih: sup jagung buatan mamaku. Supnya masih panas, jadi belum ada satupun jagungnya yang masuk ke mulutku.

Sedari tadi, sejak aku melihat status salah satu teman fesbuk-ku, pikiranku tertuju pada satu hal.

JKT48 telah membuka audisi generasi ketiga.

Dan tinggal lah aku di sini, bersama bayangan kelam yang menutupi mimpiku dengan sempurna.

Aku sudah kadaluarsa. Ex-pir-ed. Ya, umurku sudah melampaui batas. Aku 19 tahun, tapi JOT hanya membutuhkan gadis-gadis yang berumur tidak lebih dari 18 tahun. Ssakkit... T_T  Tapi ya sudahlah, aku tak boleh mengeluh karena itu. Mungkin aku memang tidak digariskan untuk menikmati kerasnya kehidupan idol JKT48.

Saturday, 9 November 2013

Karma Does Exist

Aku tertohok.

Aku kaku.

Aku kehilangan pondasi.

Karma telah menunjukkan kekuatan dan keangkuhannya sekali lagi...

...PADAKU.

Benar kata Mama, "kita tidak boleh terlalu benci terhadap sesuatu". Sesuatu yang berlebihan itu selalu tidak baik. Kita memang berhak untuk mempunyai rasa tidak suka terhadap sesuatu, namun jangan 'keterlaluan'. Karena karma tidak berada di pihak yang 'keterlaluan', karena dia tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Dan pada akhirnya kita akan berakhir di keadaan yang sebaliknya.

Benci >< Suka

Wednesday, 6 November 2013

"Senpai..."

Malam itu aku sedang duduk di depan meja belajarku, berkutat dengan sebuah tugas berlembar-lembar pemberian dosen favoritku. Otakku tidak sepenuhnya fokus ke tugas itu, sebenarnya, walaupun aku tetap lancar mengerjakannya. Sedari tadi aku menulis kata demi kata jawaban dari soal-soalnya, suara-suara manusia terus menggema di kepalaku.

Suara orang-orang yang kukenal.

Dimulai dari beberapa percakapan yang telah aku alami bersama, candaan mereka, ekspresi mereka saat tertawa, sampai panggilan mereka terhadapku.

"Senpai,"

"Senpai..."

Sunday, 3 November 2013

"Sorry"

Akhir-akhir ini, aku sering sekali mengucapkan kata maaf. Entahlah, satu kata itu dengan mudahnya keluar dari mulutku. Padahal aku bukanlah tipe orang yang akan merendahkan gengsi untuk melakukan suatu hal yang disebut "meminta maaf"; sampai salahku benar-benar membahayakan, barulah aku akan melakukannya.

Kalian tahu, maaf itu bukan sebuah hal yang ringan untuk diungkapkan. Bukan sebuah hal yang tidak berkelas untuk dilakukan. Bukan juga sebuah hal yang mudah untuk diterima. Jadi kenapa harus meminta maaf jika kita merasa bahwa kita tidak salah atau kita tidak merasa bahwa kita salah?

Orang bijak bilang, "mengalahlah demi kebaikan, minta maaflah untuk kedamaian".

Aku tak pernah bisa terima kata-kata itu sampai sekarang. Kita tidak salah. Kita benar. Seharusnya yang salah lah yang melakukannya. Jika yang salah itu enggan, ya sudah, tak usah dilakukan, jadi tidak ada yang perlu meminta maaf.

The Horrifying Challenge

Aaaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!

Die meeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!

Matilah akuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!

Oh, Tuhan...
Ya, Allah...
My Rabb...

Aku bisa gila...

Hari ini (atau tepatnya tadi malam) aku kalah dalam sebuah permainan. Permainan menyanyikan lagu dengan kata paling akhir yang telah dinyanyikan oleh orang sebelumnya, pendeknya, sambung-sambungan lagu. Nah, siapa yang tidak bisa menyambung, akan diberi tantangan yang wajib dilakukan, tapi kalau tantangannya tidak berhasil, harus mentraktir 4 orang masing-masing 1 porsi Oriental Bento-nya KFC. Dan aku, si oon yang tidak pintar ini, adalah orang pertama yang tidak bisa menyambung.

Thursday, 31 October 2013

Fourty Weeks after You were Gone

Hai...

Aku mau curhat...

Hari ini aku kurang beruntung. Kurang beruntung berarti cukup sial. Eh, apa sial itu ada? Err.. Ya.. anggap aja begitu ya.

Tadi pagi aku terlambat. Padahal terlambatnya seperti biasa, jam setengah sepuluh sampai di kelas. Tapi entah kenapa, karena Dewi Fortuna sedang 'hang out', aku kena 'sembur' saat masuk kelas. Dosennya yang biasa nggak pernah mempermasalahkan (atau mungkin memang nggak pernah sadar) keterlambatanku, kali ini mengamuk. Ah, aku malas menceritakannya.

Padahal aku sedang sangat tidak mood banget sekali hari ini. Aku bangun dengan keadaan tubuh yang tidak bertenaga. Mungkin 5L: Lemas, Lesu, Lunglai, Lapar, Lelet. Kepalaku berat (mungkin karena saking besarnya), mataku berat, pikiranku melayang-layang ke dimensi lain, dan otakku tidak mencapai fokus sempurnanya. Bahkan sampai sekarang aku mengetik post ini, kepalaku masih berdenyut. Padahal tadi sudah hilang.

Friday, 25 October 2013

Too Painful?

Sampai detik ini, saat aku mengetikkan kata-kata ini, bagian dimana paru-paruku melekat masih terasa perih. Entah itu jantungku, hatiku, atau empeduku.

Apa aku penyakitan?

Sesak.

Sakit.

Perih.

Ya, perih. Belum ada kata lain yang pas untuk menggantikannya.

Apa aku penyakitan?

Jantungku masih berdebar sedikit di atas normal. Rongga dadaku masih terasa panas. Rasanya, aku bernapas tidak senyaman biasa.

Thursday, 24 October 2013

The Affection

Dear Diare...

Aku mau mengeluarkan kata mutiara, nih.

Ternyata, jika seseorang sudah sayang pada seseorang, bertemu dengannya lebih menguras emosi daripada tersakiti olehnya.

Misalnya begini:

Kamu adalah seorang cewek. Kamu sayang sama seseorang, dan rasa sayang itu udah lama nginap di hati kamu. Eh tapi si dia... jangankan sayang, suka aja enggak, dia nya nggak mau berhubungan sama kamu. Kamu kecewa, kan? Padahal kamu udah nggak kontekan sama si dia untuk waktu yang nggak sebentar, tapi tetap aja sang rasa nggak mau angkat kaki. Kamu udah berusaha buat ngelakuin yang dia mau: jangan ngubungin dia lagi. Tetap aja kamu kepikiran dia. Dan jleb-nya, dia malah bisa ngejalanin hidupnya seperti biasa. Sehat sentosa dan sejahtera. Ya, dia sama sekali nggak ada masalah.

Tuesday, 22 October 2013

Look and Listen


Aku mungkin adalah masa lalu yang sudah terlanjur berlalu.
Mungkin belum lama, namun kau sudah terlanjur memalingkan muka.
Aku mungkin adalah cerita usang yang sudah kauputuskan untuk kaubuang.

Namun ingatlah, sayang...
akan selalu ada aku saat kau melihat ke belakang.

Kau mungkin adalah puisi terindah yang enggan untuk aku lupakan.
Serupa kenangan masa kecil akan mainan termahal,
aku enggan untuk melupamu dan menghapus semua kenangan.

Lalu kita...
Kita adalah potongan-potongan kisah yang layak untuk dipupukkan.

Karena cinta selalu adalah cinta,
seberapapun banyaknya luka yang sempat ia taruh dalam keseluruhan hidup kita.

Maka sesekali kumohon berhentilah dari langkahmu.

Lihat... Lihat dan dengarkanlah.
Ada suaraku,
ada suaraku,
ada suaraku,
yang walaupun tidak terlalu merdu,
suara itu sesekali masih menyebut namamu.

Ia masih menyebut namamu.

Falling in Love for The Second Time

Ano... Selamat tengah malam!

Hari ini indah, ya?

Hahaha... Yeah. Hari ini adalah hari yang sangat sangat sangat indah, menyenangkan, dan mengagumkan bagiku. Tebak kenapa?

Uhm...




I FALL IN LOVE FOR THE SECOND TIME

WITH THE SAME PERSON


You know...

It was his birthday, but it was me who got the gift.

Entahlah. Aku percaya hari ini adalah karunia Allah. Dia mengabulkan doaku, doa yang selalu kulayangkan saat rindu menemaniku.

Hahaha... Kalau ingat kejadian tadi, aku jadi gila sendiri. Aku gila, Kak Wulan gila, dia pun--aku rasa--sudah gila. Tapi, segila apapun hal-hal yang termasuk bagian dari hari ini, aku bersyukur, sa~~~ngat bersyukur.

Terima kasih untuk Allah SWT yang telah menghibur Dina dengan takdir ini.
Terima kasih untuk Kak WoeLand YanQ CeLaLoe UpdAte StatUsh DoeLoe, yang rela menjadi perantara, dan telah membuat Dina termelet-melet, eh maksudnya termehek-mehek.
Terima kasih untuk Intan Berlian Permata Bunda (nama rumah sakit) yang mau aja diajak kak Wulan untuk uji nyali.
Terima kasih untuk Bela Negara yang telah bersedia aku sebut-sebut namanya, bukan 3x, bukan 4x, tapi 1x (loh?) saat aku kalang embun (versi terbaru dari kalang kabut) tadi.
Dan terima kasih, to him, semoga maafku tersampaikan entah bagaimanapun caranya. Maaf ya... Maaf... T___T

♥♥♥♥♥ ^^ ♥♥♥♥♥

I was happy. I swear. Really. For God Sake.

Hehe...

Dadah!

(There was a photo here)

Sunday, 20 October 2013

Re-Exercise

Aku senaaannnggggg!

Uhuk! Uhm... Hi~ ^^
Sore ini aku senang. Why doushite kenapa? Karena akhirnya, setelah berwindu-windu lamanya, aku bisa kembali latihan.

Ya!

Latihan dance! ^^

Loh, bukannya kamu setiap hari latihan?
Enggak...

Kenapa?
Karena---

Saturday, 12 October 2013

Jealousy

Aku melangkah keluar melewati pintu kamar, beberapa termos minuman dan sebuah cangkir kaca ada dalam dekapanku. Aku berniat mengantar benda-benda ini ke bawah, sekalian mengambil makan malam. Kemudian pandanganku tertuju ke komputer yang masih menyala (walau layarnya mati) yang berada tepat di depan kamarku. Aku pun 'mampir'. Sedetik kemudian aku teringat tentang Java yang tadi sudah didownload adikku.

"Udah siap nginstal Java-nya tadi, Pan?" Aku bertanya pada adikku sembari kembali menyembulkan kepala ke dalam kamar.
"Nggak tau Pani," jawabnya. Singkat, padat, dan tidak jelas.

Aku pun kembali duduk di  depan komputer dengan masih memeluk termos-termos dan cangkir. Folder downloads terpampang slaat layar menyala, dan file Java-nya ada di situ. Aku langsung menginstalnya. Sembari menunggu instalasi, aku melihat-lihat gambar-gambar yang ada di folder itu juga.

Klik

Klik

Saturday, 3 August 2013

Appeared on TV

Mwehehe... Udah baca judulnya, kan? Mwehehe... Tau artinya, kan? Mwehehe... Jadi... Mwehehe... XD *kebanyakan nyengir*

Aku masuk tipiii! Hoorayyy! Berhasil, berhasil, berhasil, hore! Louisimo (apaan...), berhasil!

Jadi ngene...

Hari itu, tanggal 26 Juni 2013, anggota Shiawase Japan Club menjadi salah satu pengisi acara di event APEC yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna UNIMED. Event ini memberi kesempatan pada para wirausahawan/wati untuk memamerkan usahanya dengan mendirikan stand atau tenda. Nah, kebetulan, Shiawase disupport oleh salah satu peserta APEC yang mendirikan usaha accessories, jadi kami dapat bertengger di stand tersebut selama sehari tampil. Shiawase tampil dua kali; pada sekitar jam 1 siang dan jam 8 malam.

Friday, 2 August 2013

The Unexpected Forgetfulness

Allaahuakbar.
Bismiillaahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin.
Arrahmaanirrahiim.
Maalikiyaumiddin.
...
...
...
Astaghfirullaahal'adzim.
Bismiillaahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin.
Arrahmaanirrahiim.
Maalikiyaumiddiin.
Illalladziina aamanu wa'amilussaalihaa─
...

Tuesday, 30 July 2013

How Holy A Cat is

Yo, selamat pagi! Sekarang tertera angka 6:56 AM di sudut kanan bawah layar komputerku, artinya langit gelap sudah berganti menjadi langit terang, dan aku siap menjalankan puasa. X) Jadi sebentar lagi aku akan menyelesaikan kegiatan 'klak-klik'ku ini untuk melakukan kegiatan─harus&wajib─rutinku di setiap pagi yaitu dance! Yeay─ Sudah, sudah, kembali ke judul.

Sekitar setengah jam lalu aku menemukan sebuah artikel yang berjudul "Mengapa Rasulullah Memelihara Kucing", dan dengan ketertarikan yang luar biasa aku langsung membacanya. Semakin ke bawah aku memutar scroll, aku semakin senang membacanya; rasanya seperti ada gas bahagia yang tiba-tiba meledak dan menyebar di seluruh lambungku, naik ke paru-paruku dan berhenti di otakku. Tahu kenapa? Yeah, artikel itu menceritakan tentang Rasulullah SAW yang sangat menyayangi kucing dan bagaimana Beliau memperlakukannya. Beliau bersabda bahwa kucing itu tidak najis; kucing adalah hewan yang suka berkeliling di rumah (hewan rumahan), dan kucing itu adalah perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis. Bahkan, Aisyah pernah melihat Rasulullah SAW berwudhu dari sisa jilatan kucing. We o we (wow)... Aku tertegun.

Saturday, 27 July 2013

The Unpleasant Iftar

Hari ini jadwalnya Shiawase untuk buka puasa bersama. Oh iya, harap garis bawahi kalimat 'jadwalnya Shiawase untuk buka puasa bersama'. Jadi sudah seharusnya para anggota Shiawase itu datang. Tapi, kenyataannya..................

- aQoeh cii imOetZ
- Kak Wulan digit 2
- Indah Bele
- Ichszan Eank cLaLoe CaiiaNk KirOro
- Dallas
- Ery Gulla
(titik)

Noh, ada "titik"nya, jadi... itulah daftar orang-orang yang datang untuk bubar. Tiga orang pembina Shiawase (harap dicatet, pembina, bukan anggota), satu orang pengawal Indah, dan dua orang anggota Jeketi Forti Et Medan Fans Club.

Thursday, 25 July 2013

Hard Dance

Assalamu'alaikum wr. wb.

Well, hari ini hari ke-16 bulan Ramadhan, jadi telah 16 hari umat muslim di sleuruh dunia berpuasa. Tapi aku belum sampai 16 hari, karena alasan keperempuanan, you know, jadi sudah beberapa hari ini aku harus meliburkan puasaku.

Liburan kali ini sangatlah terasa membosankan bagiku. Aku terkurung di rumah hampir setiap hari. Hanya satu hari; hari Senin di minggu kedua puasa itu saja aku dapat menginjakkan kakiku di lantai angkot untuk pergi latihan. Seharusnya kami latihan di hari Selasa dan Kamis, namun karena teman seperjuanganku tidak diperbolehkan untuk latihan, akhirnya latihan pun diundur diundur terus-terusan, sampai hari ini, hari Kamis; hari dimana kami seharusnya latihan.

'Mengapa tidak latihan sendiri saja?'
'Oh, God, no... Alu bukanlah tipe orang se-pede itu.'

Monday, 1 July 2013

Welcome, July!

Welcome, Julyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!!

Ah, finally, my month of birth comes. Three days again, I have my birthday! Yeay and hooray~ ^-^

Well, walaupun aku yakin ulang tahunku tahun ini akan sama seperti tahun sebelumnya--without anything special like celebration or just a tart, tapi entah karena apa dan berasal darimana, aku merasa senang. Beneran. Serius. Suer tekewer-kewer. Aku senang! *ala Haruka JKT48*

Hal-hal yang sama yang akan terjadi tahun ini adalah:
♦ Ucapan selamat dari papah mamah (eleh, sok papah mamah, padahal omak bapak) dan--mungkin--adik.
♦ Ucapan selamat yang beratus-ratus dari teman-teman di fesbuk. Ada yang bilang "HBD", ada yang bilang "met ea", "Happy birthday!", "Selamat hari netas", "selamat ulang tahun", "happy bornday", "met milad", dan lain-lain.
♦ No celebration.
♦ No tart.
♦ No surprise.
♦ No bully.
♦ No gifts.
♦ No money.

Yeah. Betapa bahagianya, kan, hari ulang tahunku?

Namun, seperti yang aku bilang, seperti ada sesuatu yang membuatku senang pada bulan kelahiranku tahun ini, mungkin sesuatu itu malaikat, atau mungkin sesuatu itu rasa syukur, atau mungkin sesuatu itu akan ada hal membahagiakan yang akan terjadi, atau mungkin sesuatu itu Syahrini (loh?). The point is ureshii! I'm happy! ^^

(There was a photo here)

WHY THE HELL!

Written on

Saturday, 13 April 201



Kenapa aku seperti ini!


Aku cepat tersinggung, aku sensitif, aku tak pernah puas, aku sering merasa kesal, aku jarang bersyukur.

Ya Allah...

"Solely You"

Written on

Friday, 5 April 2013


Apa kamu pernah merasa begitu bersalah? Perasaan bersalah yang mengejar hingga kamu merasa tak akan pernah bisa memaafkan dirimu sendiri. Tapi cinta tidak begitu, kata orang-orang terdekatmu, juga kata sahabat terbaikmu.
Dan adakah yang tahu cara meredam rindu? Hingga rindu itu bisa tersimpan demikian rapi, tidak mengejarmu, tidak pula mengaduk-aduk isi hatimu? Andai ada yang tahu caranya, aku ingin sekali orang itu mengajariku…
(Solely You) 

Leaving

Written on

Monday, 18 March 2013



"I left my love somewhere too high, so I ended up just staring at the wind."


3:07 AM

Written on

Sunday, 17 March 2013


"Mana remotnya, Kak?" Aku spontan menolehkan pandangan dari layar komputer. Ternyata mama bangun dari tidurnya. "Bawak sini dulu. Udah ketinggalan lah ini."

Aku mengernyit. Aku tau pasti ... mama bangun jam segini hanya untuk menonton bola. Dan aku juga tau pasti ... yang bertanding saat ini adalah Real Madrid.

Ternyata benar.

Real Madrid VS Manchester Real Mallorca.

Pastinya ada akang Ronaldo. Dan mama tak akan mau melewatkan pesonanya.

"Ya oloh, Mak... Mak...," kataku sambil geleng-geleng kepala.

"Gol!"Mama berteriak pelan. Dengan agak terkejut aku menoleh ke tipi. Mama menunjuk-nunjuk tipi, wajahnya sumringah dihiasi senyum lebar Pepsodent. "Liat tuh si Ronaldo yang gol-in! Dua-satu...!"

"Ya oloh, Mak... Itu ada cemilan." Aku menunjuk bungkus plastik yang berisi Choco Mania yang aku beli tadi. Aku kembali menonton drama.

"Gol!" Aku menoleh lagi ke tipi. Salah satu pemain Real Madrid yang rambutnya panjang dibelah tengah dan memakai ikat kepala putih sedang berlari merayakan gol yang baru saja dihasilkannya. Senyum mama semakin lebar. Tangan kirinya meninju-ninju udara. "Gol lagi! Biasanya dia suka pakek ikat kepala ini..."

"Gol lagiii!!!" Mama terlihat sangat bahagia. Tangannya semakin liar meninju-ninju udara. Sambil tertawa senang, ia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk untuk lebih serius menonton.

"Gol-kan! Gol-kan! Aduh..."

"Yak, gol-kan!"
Hahaha... Dasar my beloved mamak... Kalo udah Mas Ronaldo aja baru mau nonton bola.

"Gol-kan! Gooollll!"

"Gol apanya, Mak?" tanyaku saat melihat adegan offside yang dibuat Mallorca.

"Eeee...." Mama mendengus.

A Very Bad Dream

Written on

Saturday, 16 March 2013


Last night I had a very bad dream. A very bad dream. A VERY BAD DREAM.

Di dalam mimpi itu aku divonis terkena penyakit mematikan, dan hidupku tinggal beberapa hari lagi. Penyakit sejenis spinocerebellar ataxia yang menyerang Kitou Aya sampai merenggut nyawanya. Tetapi penyakitku lebih ganas, karena saat dokter memvonisku, ia bilang bahwa hidupku tidak akan lama lagi, hanya tinggal beberapa hari tersisa. Berani-beraninya dokter itu mendahului Tuhan dengan meramalkan umurku. Kalau Aya melemah secara bertahap dan dalam waktu yang lama, penyakitku ini sama sekali tidak berbelas kasihan padaku untuk menikmati hidup lebih lama lagi, karena ketika saatnya tiba aku akan tiba-tiba melemah dan dalam beberapa menit aku akan mati. Mati...


Aku sangat ketakutan.


Menghadapi kematian bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terlebih jika kita tahu kapan kita akan mati. Menghilangkan rasa takut dan menenangkan diri sendiri. Hanya dua hal itu yang dapat aku lakukan.


Takut akan dikubur, takut akan dosa yang sudah menumpuk, dan takut akan siksa neraka. Aku sangat takut. Beberapa hari tidaklah cukup untuk bertaubat mengurangi dosa.


Aku bingung kenapa aku bisa terkena penyakit itu. Tapi yah... Aya juga begitu. Dia tidak mengerti kenapa penyakit gila itu bisa hinggap padanya.


Suatu ketika, saat kematianku sudah semakin dekat, aku sedang bermain komputer. Tiba-tiba mama dan papa datang menghampiriku. Mama memelukku dan mencium pipiku. Aku tahu mereka ingin menemaniku. Lalu aku bertanya kepada papa, "Pa, berapa lama waktu pas dina kesakitan nanti?". Dan Papa menjawab, "lima menit..."


Hatiku seperti tertancap tombak saat mendengar dua kata itu. Kepalaku sepeti mau pecah. Aku benar-benar tidak ada harapan lagi. Aku akan mati sia-sia dan mendapat siksaan di neraka. Aku tidak punya waktu untuk memohon ampun kepada Allah. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku ingin menangis, aku ingin teriak, sesedu-sedunya, sekuat-kuatnya. Bahkan jika aku mati karena menangis dan teriak, aku akan lebih ikhlas.


Kemudian mataku terbuka. Aku terbangun.


Ternyata itu hanyalah mimpi buruk.


Mulutku terbuka, dan napasku saling memburu, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menenangkan paru-paruku. Dadaku sangat sesak. Tubuhku meriang. Aku merasakan keringat mengucur dari kulitku. Mimpi tadi masih tergambar jelas di benakku. Aku mulai sesenggukan, tapi aku mencoba menahannya. Aku membalikkan badan ke kanan, memeluk lutut, dan beristighfar berlang-berulang.


Ya Allah, terima kasih. Terima kasih masih memberiku waktu. Terima kasih.

Pilgubsu 2013

Written on

Thursday, 7 March 2013


Today was the election of Sumut's governor. And today was my first time being an elector. ^^

And today, also, I became one of the KPPS. Yeay!

Aku dan Papa berangkat-dengan telat-ke TPS 3 jam 7 kurang. Ternyata kami (tepatnya aku) sudah ditunggu-tunggu di sana. Huehehe...

Tidak banyak yang kulakukan di sana. Pertama, aku mengisi data di kertas suara.


Tidak banyak yang datang untuk memilih. Hour by hour, hanya satu-satu yang bermunculan. And all of them are Chinese. Yea, TPSnya di lingkungan orang Cina sih...

Lalu, aku membubuhkan tanda tangan (ceilah...) di data anggota KPPS.

Terus, aku kembali ke rumah untuk mengambil hekter yang disuruh Pak Pojik.

Kemudian, setelah data kertas suara selesai, aku duduk-duduk sambil mendengarkan musik. Sesekali aku mengurus tisu di tempat celup tinta (tisunya untuk mencegah tangan jari terlalu kotor).

Then, aku dan Pak Topek pergi ke TPS 10 (di depan rumahku) untuk menggunakan hak pilihku (asek asek). Saat di kotak TPU, aku bingung mau memilih siapa. Aku memperhatikan wajah kelima calon satu-persatu, mencari siapa yang tersenyum paling ikhlas. Akhirnya aku mencoblos pasangan handsome (GanTeng) nomor 5, di pecinya Pak Gatot. Aku sempat lupa untuk mencelup jariku ke tinta. Haha... padahal aku salah satu KPPS. Lalu aku pun kembali ke TPS-ku.

Tanda pertama. X)

And then, aku kembali duduk-duduk santai. "Makan lah, Din. Di sana nasiknya," kata om Agus. Aku melihat di meja makan masih ada bapak petugas lain, aku pun segan. Jadi aku menjawab, "Iya nanti, Om."

Beberapa lama kemudian, aku pun ke meja makan setelah melihat Pak Pojik sedang makan di sana. "Iya, makan duluan ya... Tadi sok-sok nggak mau makan..." Om Agus meledek. Aku pun nyengir. Nasi bungkusnya lumayan menggugah perut. Ayam dan telur bulat... slurp slurp~

Sehabis makan, aku kembali ke tempatku, bersantai ria. Sudah hampir jam 1. Sepertinya memang sedikit yang datang.

Penghitungan suara pun dimulai. Aku bertugas melipat kertas suara yang telah dihitung. Jumlah kertas suara yang ada 137, sah 133, batal 4 (karena pencoblosan ganda. kkkk~ nggak niat milih.) Suara paling banyak didapat oleh nomor 2, yaitu sebanyak 62. Nomor 1 sebanyak 28. Nomor 5 sebanyak 26. Nomor 4 sebanyak 17. Kasiannya, nomor 3 nggak ada yang milih. Pantes, dari tadi aku tidak mendengar Pak Poji mengucapkan "tiga".

Selesai penghitungan, kami pun beres-beres TPS. Lalu aku dan Pak Poji juga Fadlan si Pakpol cilik melesat ke kantor lurah. Di sana gajinya dibagiiiii! Hooray~~~

Dan tebak, aku dapat berapa? Kasih tau nggak yaaaa~ Uhmmm... Errr... Auwwwrrr.... Haha... Aku dapat Rp 210.000,-! Lumayan lah, eh udah mantap deng itu kalo dibandingkan dengan kerjaku yang santai. Huehehehe... XD Semoga pas Pilpres aku dipake lagi. Amin ya Robb. *sujud*


Haha... Mau kuhabiskan dimana ya uangnya? XD
PLAK! GEDEBUAGH! *nampar dan ninju muka sendiri* Noooo! Aku harus nabung! Ingat Dina Yoon, hutang kamyu masih bercecer dimana-mana di atas dunia.

Hah... Ya amplas... *mencair*

For The Last Time

Written on

Wednesday, 6 March 2013



Akan kubuat lagi, sajak demi sajak,
tentang kenangan, tentang cinta, tentang kamu,
tentang masa lalu yang telah berlalu.

Akan kubuat lagi, kata demi kata,
untuk mengingatmu,
untuk menyadarkan kepalaku,
mulai esok hari,
tak akan ada kamu lagi.

Dan akan kutulis lagi,
cerita demi cerita dari hati,
untuk menuliskan kisahmu,
kisah cinta yang kurasa tak terlalu indah,
namun aku masih tersenyum
saat berusaha menuliskannya.

Ya, akan kutulis lagi,
sebuah kata yang menunjukkan sebuah nama,
namamu
nama yang sempat merajai hari dan malamku,
nama yang kusebut ketika aku merindumu,
nama yang kusandingkan ada di belakang namaku,
namamu.

Namun cukupkah itu, untuk seorang kamu?
karena hatiku mulai terlalu merindu,
pada sapamu, pada suaramu, pada kecupanmu,
karena aku mulai merasa terlalu cemburu, 
pada masa lalu,
yang menggenggam erat dirimu.

Untuk terakhir kalinya,
ingin kutuliskan lagi:
aku masih mencintamu,
aku masih mencintaimu,
aku masih mencintaimu.

Dan merindumu...
adalah hal yang tak perlu kau tahu.

The Furthest Distance

Written on

Tuesday, 5 March 2013


“Aku selalu jatuh padamu berkali-kali, seperti ini.”


Kali ini. Lalu apakah aku harus jatuh lagi padamu seperti dulu saat setiap kita bertemu? Bertatap mata? Dan detak tak beraturan ini tak jua kamu menyadarinya. Bahkan tak pernah terdengar olehmu, bagaimanapun itu.

Hari ini, kamu, gadis hujan yang seharusnya telah lama pergi. Yang pernah paksa kuantarkan sendiri menuju luar pintu hati. Tapi ternyata kamu selama ini hanya berpindah duduk, setelah tak lagi di dalam kini kamu menunggu di depan pintu, mencari celah untuk masuk kembali. Dan aku tak pernah ingin berucap bahwa pintu ini telah tertutup untukmu. Tidak. Pintu ini memang tertutup, hanya saja tak pernah terkunci. Dan kamu lah yang selama ini menyembunyikan kuncinya dan selalu tahu bagaimana cara melangkah masuk dengan mudahnya.

“Jarak terjauh bukanlah antara bumi dan bulan atau di daratan yang terpisahkan oleh lautan. Melainkan di depan mata, bersisian, tetapi kehadiranku tak pernah kaurasakan.”

Noise of Rain

Written on

Tuesday, 5 March 2013


Aku kembali menoleh ke jendela belakang untuk kesekian kalinya.


Terang. Tidak ada air yang turun.

Aku melihat jendela di belakang meja komputer, memicingkan mata, fokus. Memang tidak ada air yang turun.

Tetapi mengapa ... aku mendengar suara hujan?

Apa karena aku minum kopi? Wak Gugel bilang minum kopi di saat stres dapat menyebabkan halusinasi. Tapi aku rasa aku tidak terlalu stres saat ini.

Lalu apa? Kenapa?

Hah~ I might be crazy.


(There was a photo here)

The First Performance

Written on

Monday, 4 March 2013


Hahaha... Memalukaannn!

Aku baru saja selesai menonton dua video penampilan pertama kami, SAE. Penampilan pertama kami itu di bulan Oktober. Kami tampil bersama JKT Fans Club Medan di Merdeka Walk. Kami melakukan dance cover, mereka melakukan wotagei.

Kalau ingatanku tidak salah, saat itu sekitar jam 9 malam. Seharusnya kami tampil lebih awal, tapi karena faktor hujan petir halilintar angin topan banjir tsunami cetar membahana badai yang sangat nyata kami terpaksa mengundur waktu. Kami tampil seadanya. Akibat hujan, lantai dansa pun menjadi becek nggak ada ojek. Oleh karena itttuuu kami harus bertelanjang kaki saat tampil, karena kami tidak ingin eksis untuk momen yang memalukan (baca: terpeleset dan jatuh). Dan akibat hujan juga, jumlah penonton pun seiprit. Yah... sudahlah. Apa boleh bewot. Kami juga merasa tidak enak dengan anak Jeketi, karena mereka berasumsi: "Pokoknya hari ini harus tampil, jadi nggak sia-sia."

Yosh, tidak ada kata menyerah dalam semangat Jepang. Pokok'e がんばって! *minum Mirai Ocha*

(Wah, sebenarnya sih aku mau upload videonya, tapi ... loading-nya ngajak berantem. Jadi yah ... kapan-kapan saja lah aku upload.)

Sooo, saat aku menonton video-video itu, aku seperti ingin menggigit keyboard komputerku. Kenapa? Ternyata it was sooo embarassing. XD Gerakan kami masih amburadul. Tidak ada power, masih lupa-lupa koreo, dan tanpa sepatu. Dan sebagai pelengkap kesempurnaan, ada seorang cleaning service MW yang dengan wolesnya mengepel mondar-mandir di depan kami. Jan*ok!

Soal gerakan, kami yang sekarang memang jauh lebih baik. Alhamdu ... lillah. Itu berkat rajin latihan, instropeksi, dan latihan fisik. =D

Well, aku jadi rindu untuk tampil kembali. I hope there will be jobs for us again asap, kalau bisa sih yang seperti di SaHIVa waktu itu. Haha.

SaHIVa...

Ya amplas... Galau lagi deh gue. =________=" *shakes head*

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

ONE OK ROCK - Clock Strikes Lyrics

Ah, I directly fell in love when I watched the PV. This song is sooo relaxing. I keep playing it till I write this post. ^^

Well, since there are not many posts about the lyrics yet, I guess I will do it, moreover I'm loving the song. I copied the lyrics from tumblr, with a bit correction by me.


Japanese: 

What waits for you

What’s breaking through
Nothing for good
You’re sure it’s true
永遠なんてないと言い切ってしまったら
あまりにも寂しくて切ないでしょう
誰もが本当は信じたいけど
裏切られれば深く傷ついてしまうもの
永久がある世界が理想ではなく
それを信じ続けている姿
それこそ僕らが望むべき世界
と気づくことができたなら
What will we end?

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be afraid
You can keep it till the end

古、永遠なんてないと言い切る

そしたら希望や夢はいくつ死ぬだろう?
それが存在しないことの絶望
と存在することの残酷を
想像をしていて僕は少しまた
めくるページの手を止める
How will we end?

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be afraid
You can keep it till the end

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be afraid
You can keep it till the end

Keep it till the end

You can keep it till the end
And time will stay
Time goes by

You can keep it till the end




Romanization:  


What waits for you

What’s breaking through
Nothing for good
You’re sure it’s true
Eien nante naito iikitte shimattara
Amarinimo sabishikute setsunai deshou
Dare mo ga hontou wa shinjitai kedo
Uragirarere ba fukaku kizu tsuite shimau mono
Towa ga aru sekai ga risou dewa naku
Sore wo shinji tsuzuketeiru sugata
Sore koso bokura ga nozomu beki sekai
To kizuku koto ga dekita nara
What will we end?

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be afraid
You can keep it till the end

Inishie eien nante nai to ikiru

Soshitara kibou ya yume wa ikutsu shinu darou?
Sorega sonzai shinai koto no zetsubou
To sonzai suru koto no zankoku wo
Souzou wo shite ite boku wa sukoshimata
Mekuru peji no te wo tomeru
How will we end?

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be afraid
You can keep it till the end

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be afraid
You can keep it till the end

Keep it till the end

You can keep it till the end
And time will stay
Time goes by

You can keep it till the end




Translation: 


What waits for you

What’s breaking through
Nothing for good
You’re sure it’s true
If you say there is no forever
You would be lonely and in pain
Everyone actually wants to believe,
But betrayal may leave a deep wound
You keep on believing that
A world with forever is not a utopia
If we could realize that
This is the true world we wish for,
What will we end?

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be even
You can keep it till the end

If we keep saying that there is no forever

Then how many hopes and dreams would die?
Thinking about the despair if forever doesn’t exist
And how its existence is inhumane
Makes you stop the hand again at the turning page
How will we end?

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be even
You can keep it till the end

Believe the time is always forever

And I always be here
Believe it till the end
I won’t go away
And won’t say never
It doesn’t have to be even
You can keep it till the end

Keep it till the end

You can keep it till the end
And time will stay
Time goes by

You can keep it till the end 




(cr: ohtheskyisgreen.tumblr.com)