"Sorry"

Akhir-akhir ini, aku sering sekali mengucapkan kata maaf. Entahlah, satu kata itu dengan mudahnya keluar dari mulutku. Padahal aku bukanlah tipe orang yang akan merendahkan gengsi untuk melakukan suatu hal yang disebut "meminta maaf"; sampai salahku benar-benar membahayakan, barulah aku akan melakukannya.

Kalian tahu, maaf itu bukan sebuah hal yang ringan untuk diungkapkan. Bukan sebuah hal yang tidak berkelas untuk dilakukan. Bukan juga sebuah hal yang mudah untuk diterima. Jadi kenapa harus meminta maaf jika kita merasa bahwa kita tidak salah atau kita tidak merasa bahwa kita salah?

Orang bijak bilang, "mengalahlah demi kebaikan, minta maaflah untuk kedamaian".

Aku tak pernah bisa terima kata-kata itu sampai sekarang. Kita tidak salah. Kita benar. Seharusnya yang salah lah yang melakukannya. Jika yang salah itu enggan, ya sudah, tak usah dilakukan, jadi tidak ada yang perlu meminta maaf.



Egois?
Bisa iya, bisa tidak.

Tentu saja logikaku tidak setuju bahwa itu egois. Yang menganggap hal itu egois adalah kekerasan hati si manusia yang bersalah dan si manusia yang membelanya dan si manusia itu sendiri.

Mengalah dan meminta maaf. Dua hal itu merupakan hal mengerikan bagiku. Terserah kalian menganggap sifatku itu sifat setan atau iblis atau dajjal, tapi memang begitulah adanya. Haruskah aku meminta maaf atas hal ini?

Sebagai perumpaan, saat satu individu marah karena tidak terima akan satu hal yang menyentuh titik gelap emosinya, padahal hal itu adalah hal lumrah yang memang sudah 'seharusnya'. Individu itu meluap-meluap, berubah sikap dalam sekejap, dan aura hitamnya menguar, menyebar mencari orang-orang yang mampu melenyapkannya. Sang individu pun begitu, ia melakukan perintah perasaannya yang merasa disakiti: mengekspresikan kekesalan yang mendalam sehingga individu di sekitarnya sadar dan merasa sebagai tersangka. Jadi individu-individu di sekitarnya pun merasakan sesuatu yang membuat hati mereka seperti tertohok dan timbullah perasaan yang disebut "tidak enak".

Hah...

Rumit ya, manusia... Seberapa lama pun kita berhubungan dengannya, kita tidak pernah dan tidak akan pernah tau semua sifatnya. Kita tidak akan pernah benar-benar memahami dimana saja letak sisi-sisi sensitifnya.

Well, kembali ke awal. Kontras dengan sifatku, akhir-akhir ini aku sering meminta maaf.

... untuk hal yang bukan kesalahanku, dan jelas-jelas bukan kesalahanku.

Mungkin aku memang sudah gila atau sudah tak waras, sistem kerja otakku agak bermasalah belakangan ini. Hasilnya, aku telah melakukan hal memalukan yang menghempaskan harga diri seperti mengejar seorang laki-laki dan mengatakan perasaanku padanya lebih dulu. Dan entah malaikat apa yang membisikkan, aku berhasil mengucap maaf kepada orang walaupun sulit.

Saya bangga sama kamu, Nak.
Oh, shut the heck up.

Mungkin memang maaf itu menyesakkan, namun itulah yang membawa keindahan. Buktinya tidak ada kerenggangan yang tercipta setelah itu. Mengesampingkan perasaan dan gengsi, itulah yang harus kita lakukan agar maaf mudah keluar.

Ah, akhirnya aku tau penyebab kata maaf bisa dengan mudah aku ucapkan.

Ternyata itu.

Jadi, masihkah sang maaf diperlukan?

You Might Also Like

0 comments