Saw You, Again

Hi, Sayang. Bagaimana harimu hari ini? Menyenangkankah?

Alhamdulillah, hari ini aku bisa kembali melihatmu.

Apakah kau sadar, Sayang, kita sudah dua minggu tidak bertemu? Apakah kau juga merasakan waktu begitu cepat berlalu seperti aku merasakannya? Dan apakah kau masih ingat bahwa kau melihatku sedang berdiri di depan kelasmu saat terakhir kita bertemu? Ya, aku tahu, Sayang, kau tidak mau menemuiku saat itu.

Jadi, semenjak saat itu, semenjak kau mengeluhkan keagresifanku, aku telah memutuskan untuk tidak lagi menemuimu. Aku tidak akan mendekati sosokmu, aku tidak akan berbicara padamu, dan aku tidak akan memaksamu untuk berbicara padaku. Seperti maumu, Sayang. Seperti maumu. Namun, jangan kira karena aku berhenti menemuimu lagi, aku juga akan berhenti melihat dirimu. Tolong jangan keluhkan itu, Sayang, karena itu adalah hakku. Aku berhak untuk melihat siapapun yang ingin kulihat, karena kedua mata ini adalah milikku. Bukan begitu, Sayang?



Sayang, pagi ini aku bangun dengan meluncurkan harapan yang sama kepada Tuhan. Harapan yang selalu timbul setiap aku membuka mataku: semoga aku dapat melihatmu hari ini. Kau tahu, Sayang, harapan itulah yang memberiku tenaga dan semangat untuk menjalani hariku.

... Karena, sekadar melihat wajahmu bukanlah kegiatan yang membuang-buang waktu.

Maka hari ini aku sengaja pulang lebih lama untuk menunggu kelasmu selesai. Dengan sedikit keraguan aku duduk di kantin, menanti waktu menunjukkan angka dua. Keraguanku berbisik, memaksaku untuk pulang, membuatku pesimis bahwa aku belum tentu dapat melihatnya hari ini. Tapi aku teguh, Sayang. Seperti kata Naruto, "tidak akan tahu kalau tidak dicoba", kan?

Saat angka-angka besar di layar handphone-ku hampir menunjukkan angka dua, aku bergegas menuju gerbang. Karena pengetahuanku tentangmu yang sangat sedikit ini setidaknya dapat menginformasikan bahwa saat pulang kau tidak akan berpijak lagi di kantin; kau lebih tertarik dengan tahu isi di depan gerbang. Aku duduk di bangku gerbang, menyetel mataku untuk mencari sosokmu.

Kau tahu, Sayang, setiap aku menunggumu, saat waktunya sudah dekat, aku selalu merasa gugup. Jantungku tidak pernah belajar untuk terbiasa; bertemu denganmu atau hanya sekadar melihatmu selalu bisa membuatnya berdebar. Begitu juga dengan perutku. Aku selalu merasa mulas jika aku gugup. Kau berefek hebat, ya, Sayang...

Beberapa menit telah berlalu, Sayang, namun kau belum juga tertangkap indra penglihatanku. Aku melihat ke kanan dan kiri, memastikan dari gerbang mana kau akan keluar. Oh iya, aku tahu, kau tidak selalu langsung keluar saat kelas selesai. Entah apa yang kaulakukan, kau selalu lama menginjakkan kaki ke gerbang.

Mataku tetap waspada, mencari melewati kepala-kepala lainnya yang sedang berkeliaran di parkiran. Aku lebih memfokuskan mataku ke gerbang di sebelah kiriku. Aku lebih yakin kau akan keluar dari sana, karena aku juga yakin kau selalu memarkirkan motormu di sebelah sana, di dekat tahu isi. Dan siapa tahu kau berkeinginan untuk membeli tahu isi?

Aku masih mencari, Sayang, mencari seorang anak laki-laki bertubuh tinggi yang selalu mengenakan jaket. Itulah petunjuk mudah bagiku untuk menemukan sosokmu.

Ah, aku melihat seseorang yang ciri-cirinya tak asing bagiku. Bertubuh makmur, berkulit hitam, dan berkumis. Bukankah itu temanmu, Sayang? Temanmu yang mungkin sudah hapal dengan wajahku karena telah beberapa kali aku tanyakan tentang keberadaanmu. Dia berdiri di depan gerobak kue pancung. Jika temanmu itu sudah berada di sana, pasti kau juga. Aku ingat kalian sering bersama saat keluar. Tapi dimana kau, Sayang? Kenapa mataku tidak juga menangkap sosokmu? Apakah kau tidak hadir hari ini? Tidak mungkin, Sayang. Aku tahu kau tidak berkeinginan untuk absen.

Temanmu masih berdiri di sana, berbicara dengan beberapa anak lain yang mungkin juga teman sekelasmu. Aku terus memandang ke arahnya, Sayang, karena aku yakin kau akan muncul di dekatnya. Pandanganku sering terhalang oleh orang lain yang berlalu-lalang mengambil kereta atau membeli jajanan. Aku gelisah. Aku sering menggerakkan tubuhku dan memanjangkan leherku untuk melihat melewati kepala-kepala. Karena aku sulit untuk melihat pakaian yang mereka pakai, aku memandang wajah-wajah di dekat temanmu itu satu per satu dengan teliti. Tidak ada wajahmu. Aku tidak menyerah, Sayang. Mataku tidak berpaling dari sana.

Dan tiba-tiba wajahmu muncul di belakang kerumunan itu. Aku kaget. Aku langsung salah tingkah; aku mengambil handphone-ku dan mengotak-atiknya, namun tetap waspada melihatmu. Ya, Sayang, aku yakin itu wajahmu. Aku sengaja memakai kacamata agar jelas melihatmu, jadi aku tidak mungkin salah mengenalimu. Wajah dengan mulut yang jarang menunggingkan senyuman, namun akan langsung melebar menunjukkan deretan gigi yang tersusun rapi saat tersenyum.. Rambut hitam tebal yang aku tak tahu bermodel apa, namun identik denganmu. Serta sepasang mata yang melihat dengan tak bergairah. Aku sangat mengenal wajahmu, Sayang, walau hanya dengan beberapa kali pertemuan. Apakah kau sadar bahwa aku tak pernah memakai kacamata saat kita masih berkomunikasi dulu? Saat itu aku tak tertarik untuk mengenali wajahmu, karena hanya dengan mengenal tubuhmu sudah merupakan kecukupan bagiku untuk mengenalmu, karena memang sebelumnya aku tak menyukaimu, si songong bersuara besar. Namun sekarang, aku selalu memakai kacamata jika aku berniat untuk melihatmu. Sadarkah kau, Sayang, selama aku agresif saat itu, aku tidak menyia-nyiakan kesempatanku. Aku tak pernah melepaskan pandanganku dari wajahmu saat aku mengajakmu berbicara. Aku meniti setiap garis wajahmu dan kuproyeksikan ke dalam dinding ingatan otakku. Alis yang tidak tebal juga tidak tipis, kelopak mata yang tidak bertenaga untuk terbuka, hidung yang kalah lebar dengan hidungku, bibir tebal yang sangat kuhapal konturnya, helaian kumis tipis yang kaubiarkan tumbuh di samping kanan dan kiri piltrum-mu, pipi tembem yang terkesan merona, warna hitam yang entah bagaimana bisa muncul di garis ketawamu saat kau tersenyum, serta kulit wajah yang cerah dan bersih. Hei, Sayang, saat itu aku sempat melihat beberapa jerawat timbul di pipimu. Apakah kau sedang banyak pikiran?

Oh sudah, aku tak tahan jika harus mengingat detail wajahmu.

Setelah beberapa detik, akhirnya tubuhmu terlihat. Ternyata kau memang selalu mengenakan jaket. Dan hari ini kau memakai jaket merah. Ah, aku baru sadar. Aku mengenal jaket itu, Sayang. Itu adalah jaket yang pernah kau pinjamkan padaku (aku heran saat kau bersikap manis seperti itu dulu). Jaket yang kata temanmu tidak kaucuci selama dua minggu karena aku telah memakainya. Benarkah itu, Sayang? Ah, hatiku perih lagi.

Kau bercengkrama dengan teman-temanmu. Tidak ada senyum yang tercipta. Aku maklum.

Kau dan teman-temanmu semakin mendekat ke depan wilayah tempatku duduk. Aku semakin salah tingkah, maka aku kembali berpura-pura melihat handphone-ku. Dan sedetik kemudian kau berdiri menghadap ke arahku. Di sela-sela pembicaraanmu, aku menangkap matamu melihat ke arahku, lalu melihat ke arah lain, lalu kembali melihat ke arahku. Apa kau melihatku, Sayang? Apa kau menyadari bahwa perempuan yang sedang duduk mengawasimu itu adalah aku? Aku semakin lekat memandangmu. Kau melihat ke arahku lagi, lalu kembali berpaling. Aku yakin kau melihatku, Sayang.

Kemudian, kau dan teman-temanmu yang sedang sibuk dengan motornya semakin mendekat. Sekarang kau jadi terhalang pohon yang ada di dekatmu. Aku menunggu sampai jaketmu kembali terlihat. Dan beberapa saat kemudian kau kembali terlihat. Kenapa kau tidak mengambil motormu? Aku melihatmu mondar-mandir di depanku, berbicara dengan tukang parkir, tapi kau tidak terlihat akan mengambil motor. Apa motor yang sedang dinaiki dua orang temanmu itu adalah milikmu?

Ah, aku tadi bilang apa? Mondar-mandir di depanku? Ya, Sayang. Entah sengaja atau apa, kau berjalan di depanku. Memang tidak tepat di depan, sih, namun kau berada di garis lurus dengan posisiku duduk. Alhasil, aku dapat melihatmu dengan hampir 'sempurna'. Aku jadi tahu tas seperti apa yang kaubawa di punggungmu. Namun, karena terlalu terlena dengan bagian atas, aku jadi lupa untuk melihat sepatumu. Hahaha... Aku lebay, ya? Memang. Aku lebay kalau menyangkut tentangmu. Maafkan aku.

Kau dan teman-temanmu kembali menjauh. Kulihat kalian menyeberang ke arah warkop. Aku tetap melekatkan mataku pada sosokmu, mengawasi kemana kau melangkah. Dan kalian menghilang di belokan warkop.

Ah, kenapa cepat sekali, Sayang? Tak tahukah kau bahwa aku sangat merindukanmu? Tak dapatkah kau memuaskan rinduku lebih lama lagi?

Aku pun memutuskan untuk menunggumu kembali dari sana. Aku yakin motormu masih ada di parkiran, dan kau pasti akan kembali.

Sayang... Sudah satu jam lebih berlalu setelah kau menghilang di seberang sana. Kenapa kau tidak kembali juga? Kenapa hanya makan saja kalian lama sekali? Apakah kau tidak mengambil motormu? Apa motormu tidak ladi berada di parkiran? Apa karena malas melihatku kau tidak kembali ke parkiran?

Baiklah, Sayang.
Aku tahu.
Aku mengerti.

Aku memutuskan untuk pulang. Mungkin besok dan besoknya lagi serta besoknya lagi aku akan melihatmu lagi,lagi, dan lagi. Aku tak akan pernah berhenti berharap.

Tidak apa-apa, Sayang. Yang terpenting aku sudah melihatmu hari ini. Melihatmu dalam waktu yang setidaknya sedikit lebih panjang dari yang sebelum-sebelumnya.

Aku sangat bersyukur, Sayang. Tuhan masih mendengar doaku. Mungkin Ia kasihan pada perempuan ini, perempuan yang masih belum bisa melupakanmu.

Aku bahagia, Sayang. Aku bahagia karena dapat melihatmu untuk memudarkan rinduku.

Dan aku tahu, Sayang. Kau tidak merasakan hal yang sama.

You Might Also Like

0 comments