Kehilangan

Ketika kehilangan itu menjadi sebuah hal mutlak, setiap kenangan dan harapan pun hanya menjadi pelengkap: pelengkap derita dalam rasa.

Kehilangan.

Siapa manusia yang tak pernah mengalaminya?

Aku pernah, tentu saja. Berkali-kali, bahkan.

Kehilangan hape, kehilangan uang (baru saja kualami), kehilangan pacar, kehilangan sahabat, kehilangan rasa, kehilangan kucing, kehilangan makanan, kehilangan pegangan, kehilangan percaya diri, kehilangan jati diri, kehilangan flashdisk (terjadi dua kali, sialnya), kehilangan data, kehilangan pulsa, kehilangan SIM Card, kehilangan buku (eh, pernah tidak ya...), kehilangan headset--milik temanku, kehilangan arah (nyasar), kehilangan ikat rambut yang sangat kusayangi (susah untuk mendapatkan ikat rambut model begitu), kehilangan gebetan, kehilangan teman, kehilangan partners, kehilangan kepercayaan, kehilangan kasih sayang, dan kehilangan-kehilangan tragis dan menyedihkan lainnya yang aku lupa dan tidak dapat kuingat.

Kamu pasti juga pernah kehilangan hal-hal seperti itu, kan?

Sakit, bukan?



 Ya, kehilangan itu sakit. Sakit di mental, sakit di jiwa.

Dan aku berani bertaruh, tiak ada satu insan pun di dunia ini yang akan langsung 'melakukan' keikhlasan saat kehilangan itu menghampiri. Kita akan terlebih dahulu merasakan perih yang dilekatkannya; meresapinya. Batin kita bertanya-tanya, berusaha mencari alasan pengundang sang kehilangan. Hal yang sudah bersama kita selama beberapa waktu tidak lagi tampak wujudnya. Hilang. Ditelan takdir.

Kalimat-kalimat pembangkit pun tak mujarab saat itu. 'Kalian tidak mengerti apa yang aku rasakan, kalian tidak mengalaminya', hatimu bergumam. Memang. Orang lain tak akan pernah mengerti apa yang kita rasakan sampai mereka mengalaminya sendiri.

Akhirnya, kita bertahan melawan luka seorang diri. Berpikir bahwa memang tidak ada yang abadi, kita mulai bisa menerimanya. Pelan, perlahan. Ilmu ikhlas pun sedikit demi sedikit dapat terkaji. Para motivator akhirnya bisa berguna, menyebarkan 'parasetamol'nya dengan sebaik mungkin.

Dan saat itulah kehilangan tak lagi mengambil andil.

Walau bagaimana rasanya sakit itu masih terekam, namun perihnya tidak lagi terasa. Kejadian-kejadian baru yang akan menjadi kenangan mampu menepis kenangan akan kehilangan itu ke tepi; kecil kemungkinan untuk dirasa kembali, namun kemungkinan masih tetap ber'value'.

Itulah kehilangan.

Untuk kamu, selalu siapkan diri, ya.

Kehilangan akan selalu terjadi, lagi dan lagi. Tak akan pernah bisa dihindari.

... karena kehilangan adalah bagian dari manisnya kehidupan yang pahit ini.


(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here) 

(There was a photo here) 

(There was a photo here) 

(There was a photo here) 
 


(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)

(There was a photo here)



(There was a photo here)


You Might Also Like

0 comments