Jealousy

Aku melangkah keluar melewati pintu kamar, beberapa termos minuman dan sebuah cangkir kaca ada dalam dekapanku. Aku berniat mengantar benda-benda ini ke bawah, sekalian mengambil makan malam. Kemudian pandanganku tertuju ke komputer yang masih menyala (walau layarnya mati) yang berada tepat di depan kamarku. Aku pun 'mampir'. Sedetik kemudian aku teringat tentang Java yang tadi sudah didownload adikku.

"Udah siap nginstal Java-nya tadi, Pan?" Aku bertanya pada adikku sembari kembali menyembulkan kepala ke dalam kamar.
"Nggak tau Pani," jawabnya. Singkat, padat, dan tidak jelas.

Aku pun kembali duduk di  depan komputer dengan masih memeluk termos-termos dan cangkir. Folder downloads terpampang slaat layar menyala, dan file Java-nya ada di situ. Aku langsung menginstalnya. Sembari menunggu instalasi, aku melihat-lihat gambar-gambar yang ada di folder itu juga.

Klik

Klik


Klik

Klik

Klik

Klik

Klik

Klik

Klik-anku berjeda agak lebih lama saat berhenti di gambar ini.


Pupil mataku bergerak pelan ke kanan dan ke kiri saat menyusuri kata-kata yang tertera. Semakin turun mataku membaca dan semakin banyak kata yang terserap, perasaanku semakin tak karuan.

Proyektor gambar dari otakku langsung menampilkan sosoknya.

Tinggi badannya...

Wajahnya...

Senyumnya...

Tawanya...

Suaranya...

Sikapnya.

Semuanya terpancar secara bergantian dengan cepat di dalam benakku. Aku ingin membebaskan air bening dari mataku, namun, entah tubuh entah jiwaku yang menolaknya, aku tak bisa melakukannya. Kata-kata itu... sangat mempresentasikan kisah tragisku.

Sang rindu kembali memanggil teman-temannya. Mereka jadi ramai kembali. Alhasil, jiwaku sesak.

Aku bangkit dan kembali menyembulkan kepala ke dalam kamar. "Pan,"

Adikku mendongakkan pandangan dari TV.

"Kenapa mesti ada kata-kata cemburu itu?" tanyaku dengan cengiran seadanya.

"Cemburu-cemburu apa?"

"Itu, di komputer... Ada kata-kata cemburu cemburu... Liat lah sini,"

Adikku bangkit dan melihat ke komputer. "Oh... ini... ini Pani yang download. Baru tau Kakak? Udah lama pun,"

"Iya, baru tau Kakak. Karena gambarnya kayaknya nggak menarik gitu jadi males kakak liat. Eh ternyata kek gitu bacaannya," kataku. Aku melangkah turun ke tangga.

"Yang penting kan kata-katanya kak,"

Iya, Pan. Iya. I see. Tapi kenapa harus yang seperti ituuuuu? T____T

Aaarrrgggghhhhhh! Raaabbbbbb!!! Hanya Engkau yang benar-benar mengerti rasa sakitku.

You Might Also Like

0 comments