Fourty Weeks after You were Gone

Hai...

Aku mau curhat...

Hari ini aku kurang beruntung. Kurang beruntung berarti cukup sial. Eh, apa sial itu ada? Err.. Ya.. anggap aja begitu ya.

Tadi pagi aku terlambat. Padahal terlambatnya seperti biasa, jam setengah sepuluh sampai di kelas. Tapi entah kenapa, karena Dewi Fortuna sedang 'hang out', aku kena 'sembur' saat masuk kelas. Dosennya yang biasa nggak pernah mempermasalahkan (atau mungkin memang nggak pernah sadar) keterlambatanku, kali ini mengamuk. Ah, aku malas menceritakannya.

Padahal aku sedang sangat tidak mood banget sekali hari ini. Aku bangun dengan keadaan tubuh yang tidak bertenaga. Mungkin 5L: Lemas, Lesu, Lunglai, Lapar, Lelet. Kepalaku berat (mungkin karena saking besarnya), mataku berat, pikiranku melayang-layang ke dimensi lain, dan otakku tidak mencapai fokus sempurnanya. Bahkan sampai sekarang aku mengetik post ini, kepalaku masih berdenyut. Padahal tadi sudah hilang.



Mungkin karena bawaan hati... T_T

Well, just forget about it. Sekarang tujuanku membuat post ini adalah untuk kopipaste salah satu entri blog seorang penulis hijau yang sudah cukup terkenal. Entrinya yang satu ini cocok dan pasti pas--banget-- dengan apa yang menimpaku.

Nggak takut dibaca si dia?
Enggak, biarlah dia tau. Biar dia ngerti betapa sakitnya aku.

Aku hanya mengubah apa yang perlu aku ubah, seperti keterangan waktu, kata benda dan predikat.

***


Kali ini, aku ingin bercerita tentang seorang wanita yang sedang sangat sibuk untuk melakukan banyak hal. Berusaha untuk mencari kesibukan baru agar ia tak lagi punya celah untuk mengingatmu. Wanita ini, tentu saja kaupernah mengenalnya. Dia pernah menjadi bagian dalam hari-harimu meskipun hanya satu minggu. Lucu, ya, betapa pertemuan satu minggu bahkan bisa melekat selama empat puluh minggu. Wanita ini adalah tempat kausempat berbagi canda dan tawa, sebelum akhirnya kaumembuat dia terluka.
Ini masih awal cerita, sekarang dia sudah jadi wanita yang berbeda. Empat puluh minggu setelah kepergian kamu, dia berusaha untuk melepaskan kamu dari hati dan ingatannya. Wanita ini berjuang sangat keras. Dia mencari teman curhat, mencari orang-orang yang senasib dengannya, dan berkenalan dengan sosok-sosok baru. Hingga pada akhirnya dia tahu, bagaimana dirimu yang sebenarnya.

Dia wanita bodoh, perempuan tolol yang mau-maunya kaujadikan bukan sebagai tujuan. Bahkan, ketika dia tahu semua kebohonganmu, dia sama sekali tak ingin membencimu. Dalam rasa sakitnya, dia seringkali bertemu Tuhan. Bercerita dengan bulir air mata di pipinya. Mengadu dengan bibir membeku; dia menyesali segala kebodohannya. Mengapa dia menerima kamu begitu mudah namun melepaskanmu begitu susah?
Sayang, wanita itu tahu sekarang kamu sudah lebih bahagia. Dari dunia seratusempatpuluhkarakter, dia bisa menduga; bahwa kamu sudah menjadi pria yang berbeda. Kamu bukan lagi matahari yang menghangatkan mendungnya. Kamu bukan lagi lembayung yang mewarnai sisi gelapnya. Kamu sekarang jadi awan hitam, Sayang. Kamu jadi biru paling kelabu, sebab air matanya tak pernah surut--selalu mengalir untukmu.
Kali ini, ceritanya masih sama. Wanita itu begitu tahu kamu suka nasi goreng. Dia mengajakmu bercakap-cakap malam itu. Ada rasa rindu di dadanya, ada rasa hampa karena kekosongan yang selama ini dia lewati tanpamu. Kadang, kamu tak tahu perasaan seseorang yang begitu bahagia bisa berbicara denganmu, meskipun kamu mengartikan pembicaraan itu hanyalah pembicaraan biasa. Tapi sayang, wanita ini berbeda. Segala hal di matamu, tak pernah kecil di matanya.

Cahaya Penunjukku. Waktu menulis ini, wanita yang kuceritakan tadi sudah tak lagi bisa menulis banyak tentangmu. Tepat empat puluh minggu setelah kepergian kamu, ternyata dia sadar ada yang perlu diperjuangkan, selain rasa rindunya terhadapmu. Kamu yang begitu berbeda telah begitu menyakiti hatinya. Mengapa kamu tak tahu, Sayang? Bahwa orang yang paling tersakiti oleh perubahanmu adalah orang yang paling mencintaimu, meskipun kamu selalu menganggap dia abu-abu.

Malam ini, sepertinya masih sama. Wanita itu ingat betapa setiap malam, selama satu minggu itu, kamu selalu menyapa dia dengan sapaan paling manis. Candaanmu terasa menenangkan untuk dibaca. Dia bahkan tak tahu mengapa dia harus mencintai laki-laki songong seperti kamu. Cintanya meledak begitu saja, ketika kaubuat dia nyaman, ketika kaubuat dia begitu mencintaimu, mengapa kaumalah membiarkan dia menggigil karena kepergianmu?

Dengan bekas lukanya yang belum benar-benar sembuh, dia masih berusaha terus melupakanmu, dia masih berusaha melangkah dengan kekuatan sendiri. Kamu tak tahu, Sayang, dia begitu kuat, lebih kuat daripada yang kaubayangkan. Memang, dia sama sekali belum mampu melupakanmu. Tapi, dia percaya waktu itu akan datang, saat dia bebas menertawakan lukanya dan justru kamu yang berbalik menangisinya.

Oke, sudah banyak paragraf. Wanita ini cuma mau bilang padamu, Cahaya Penunjukku, bahwa sebenarnya dia belum bisa melupakanmu. Sebenarnya juga, masih ada cinta dalam hatinya. Tapi, dia berusaha tak lagi menggubris perasaanya sendiri, karena dia tahu; kamu yang seperti dulu tak akan pernah kembali.

Oh, iya, kamu mau tahu, ya, siapa wanita itu? Baiklah. Aku menyerah. Wanita itu adalah....

Aku.

You Might Also Like

0 comments