Too Painful?

Sampai detik ini, saat aku mengetikkan kata-kata ini, bagian dimana paru-paruku melekat masih terasa perih. Entah itu jantungku, hatiku, atau empeduku.

Apa aku penyakitan?

Sesak.

Sakit.

Perih.

Ya, perih. Belum ada kata lain yang pas untuk menggantikannya.

Apa aku penyakitan?

Jantungku masih berdebar sedikit di atas normal. Rongga dadaku masih terasa panas. Rasanya, aku bernapas tidak senyaman biasa.



Apa aku penyakitan?

Kepalaku masih berat. Otakku masih tidak pada fokusnya. Pikiranku masih awut-awutan. Entah apa persisnya yang aku pikirkan sampai aku merasa sesulit ini untuk bergerak.

Apa aku penyakitan?

Aku sudah bosan mengetik kata-kata yang satu ini, namun untuk yang kesekian kalinya, tubuhku mulai kembali kehilangan pondasi utamanya. Ya, semangatku menguap... lagi.

Apa aku penyakitan?

Rasanya, dunia ini kembali menjadi tidak menggairahkan. Hidup ini kembali menjadi datar dalam definisiku: tantangan banyak, namun tidak ada hal yang bisa memotivasi.

Apa aku penyakitan?

Aku ingin menangis. Hatiku juga memaksaku untuk menangis. Tubuhku juga siap untuk menyanggaku ketika menangis. Namun, otakku melawan, dia berteguh pada pendiriannya untuk tidak membebaskan air mataku dari rongganya. Dia merasa bahwa hal itu tidak terlalu menyakitkan untuk ditangisi.

"Lebih menenangkan bagiku untuk melepaskan air matamu saat kau bertemu dengannya," katanya.
"Mengapa begitu?" tanyaku. "Aku rasa kau salah dalam berkeputusan,"
"Aku otakmu, aku lah pengendalimu. Semua pikiranmu tersimpan di dalamku. Aku tahu hal apa yang membuatmu senang dan sedih, dan aku tahu mana yang lebih pantas untuk kautangisi."
"..."
"Dengarkan aku. Kau sudah berkali-kali tersakiti, dan untuk waktu yang lama. Kau tahu, aku kasihan padamu. Aku tidak menginginkan kau membuang-buang air matamu hanya pada saat kau bermuram. Ingatlah, air matamu bukan hanya bertugas dalam kesedihan, namun juga dalam kebahagiaan. Seimbanglah dalam memanfaatkannya. Kau juga harus kasihan padaku. Aku sudah terlalu penuh akan pikiran ruwetmu. Aku lelah, jadi aku tidak ingin membuang tenagaku untuk memerintahkan air matamu untuk keluar. Tolong perbanyaklah hal-hal yang menyenangkan untuk dipikirkan, agar aku bisa kembali fokus, mengabdi padamu untuk menghidupkanmu, membuatmu kembali menjalani hari dengan semangat."
"Maafkan aku. Bukan aku yang berkehendak, tapi takdirku. Aku tak ingin berlarut dalam ketidaktenangan, namun dia menghalang. Maafkan aku. Diriku belum sanggup mengatasinya."

Apa aku penyakitan?

You Might Also Like

0 comments