I am Not

Ia bangun setiap pagi dengan keinginan untuk melakukan segalanya dengan benar, menjadi seseorang yang baik dan berarti, menjadi sesederhana yang terdengar, dan setidakmungkin apapun itu, menjadi bahagia.

Dan di setiap harinya hatinya akan turun dari dadanya ke perutnya.

Di sore hari ia dikuasai oleh perasaan bahwa tidak ada yang benar, atau tidak ada yang benar bagi dirinya, dan oleh keinginan untuk sendiri.

Di malam hari ia merasa puas, sendirian di dalam besarnya rasa sedihnya, sendirian di dalam rasa bersalahnya yang tak berarah, sendirian bahkan di dalam rasa sepinya.



Aku tidak sedih.
Ia akan berulang-ulang mengatakan itu pada dirinya terus dan terus.
Aku tidak sedih.
Seakan-akan mungkin saja suatu hari nanti ia akan meyakinkan dirinya sendiri.
Atau membodohi dirinya sendiri.
Atau meyakinkan orang lain--satu-satunya hal yang lebih buruk daripada sedih adalah membiarkan orang lain tahu bahwa kau sedang sedih.

Aku tidak sedih.

Aku tidak sedih.

Karena hidupnya memiliki kesempatan yang tak terbatas untuk kebahagiaan, sejauh sebuah ruangan putih yang kosong.

Ia akan tertidur dalam keadaan hatinya berada di kaki tempat tidurnya, seperti hewan peliharaan yang sama sekali bukan merupakan bagian dari dirinya.

Dan setiap pagi ia akan bangun seperti itu lagi di dalam lemari yang terbuat dari tulang rusuknya, merasa lebih berat, lebih lemah, namun masih tetap memompa.

Dan di tengah hari ia kembali dikuasai oleh keinginan untuk berada di tempat lain, menjadi orang lain, orang lain di tempat lain.

Aku tidak sedih.

(Jonathan Safran Foer)

You Might Also Like

0 comments