Bidadari dari Surga

Bidadari turun dari surga, katamu? Hahaha... Jangan memuji secara hiperbola begitu. Kautahu sendiri bahwa aku tak sesempurna bidadari. Cantik saja tidak. Namun jika kau menyebutku bidadari karena kebaikanku, aku tak tahu harus bersikap seperti apa untuk merespon. Karena mungkin memang hanya itu lah yang bisa kulakukan untukmu. Kau pernah bilang bahwa hal yang paling kauingat tentangku adalah bahwa aku sangat baik padamu. Ya... Kalau kautanya mengapa aku begitu, jawaban yang terpikir olehku adalah karena aku menyukaimu.

Apapun, bagaimanapun, kapanpun dan dimanapun aku akan selalu berusaha untuk membuatmu senang.



Kau tahu, saat ini kau lah yang menjadi penentu kesuksesanku dalam melewati satu hari. Kau adalah pencipta mood-ku. Mengingat bahwa aku akan bertemu denganmu dapat menjadi energiku untuk sehari. Dan melihatmu dapat menjadi makan siangku. Hariku terasa ringan dan cepat saat kita sedang dalam 'mode damai'. Namun sebaliknya, aku seperti tak sanggup menyelesaikan sisa jam di hariku saat kau sedang 'malas' berinteraksi denganku. Bukan apa-apa, aku hanya mendeskripsikan maksud dari 'penentu kesuksesan' itu agar kau mengerti seberapa jauh jarak yang telah ditempuh rasaku terhadapmu.

Karena semakin jauh jarak itu, aku akan semakin baik padamu.

Maka dari itu, Darling, kau tak perlu lagi heran dengan kebaikan-kebaikanku yang akan kuhujani padamu selanjutnya. Baik kebaikan yang terpaksa kubiarkan kautahu maupun kebaikan yang tak perlu kau tahu. Aku akan tetap berusaha untuk menjaga rekorku sebagai perempuan yang paling baik bagimu. Dan aku, yang kausebut 'bidadari turun dari surga' ini, telah rela meninggalkan surga...

... untuk menjadi bidadarimu.

You Might Also Like

0 comments