"Aku Sangat Menyukainya"

“Kau menyukainya?” tanya gadis yang sedang berdiri di depanku ini, alisnya berkerut. Sudah kesekian kalinya dia melontarkan pertanyaan itu.


“Seperti yang sudah pernah kubilang, aku sangat menyukainya.” Aku berusaha agar terdengar santai. “Namun perasaanku belum sampai seperti yang pernah aku rasakan terhadap-nya.”

Tidak ada jawaban lagi dari gadis itu. Entahlah, mungkin dia tak mempercayaiku. Saat pertama kali aku diharuskan untuk jujur menjawab pertanyaan itu di depan semuanya, aku juga menjawab seperti tadi; “Aku sangat menyukainya, namun belum sampai seperti yang dulu aku rasakan terhadap-nya.” Dan aku sungguh jujur. Aku tidak menjaga gengsi atau semacamnya. Aku memang menyukainya. Sangat menyukainya.
Bahkan sekarang rasa sukaku telah bertambah.


Aku merindukannya dalam kurun waktu yang tidak wajar. Setiap harinya aku mensugesti diriku sendiri untuk harus melihatnya, bertemu dengannya. Baru berpisah saja aku sudah ingin melihatnya lagi.

Aku selalu ingin berkomunikasi dengannya. Menyapanya lewat chat di setiap malam, menanyakan hal-hal yang mungkin baginya kebanyakan hal yang tidak penting.

Semangatku lenyap jika dia marah padaku. Aku selalu kalang kabut mencari cara untuk menghilangkan marahnya. Menge-chat-nya terus-terusan tetapi tidak ada balasan, mengajaknya bicara berulang-ulang tetapi dia menjawab dengan sinis (bahkan tidak mengacuhkanku), dan cara-cara lainnya. Namun aku tak pernah berhasil membujuknya. Marahnya selalu hilang karena perantara orang lain. Ya... tidak apa-apa. Dia tidak lagi marah saja sudah cukup untukku.

Aku sedih jika aku tidak mendapat kesempatan untuk berbicara banyak dengannya. Jika seperti itu, rasanya satu hari yang telah kujalani menjadi sia-sia. Bisa bertemu dengannya, namun tidak bisa berbicara banyak.... ‘Kenapa tidak bunuh saja aku?’

Sense of humor-ku menurun saat berbicara dengannya. Aku yang ‘bocor’, dan nyablak ini berubah menjadi santun bak putri keraton saat berhadapan dengannya. Jika biasanya aku berbicara dengan keras, saat dengannya aku berbicara dengan suara halus. Jika biasanya aku kurang menyaring kata-kata yang akan kukeluarkan lewat mulutku, saat dengannya aku berpikir keras untuk memilah apa yang harus kuucapkan agar nyaman terdengar di telinganya. Jika biasanya aku selalu punya inspirasi untuk ‘stand-up comedy’, saat dengannya aku seperti selalu mendapat bisikan gaib: ‘Jangan sok melawak… Ntar nggak lucu, dia malah marah… Eskate lagi mau?’

Dan sikap-sikap lainnya yang menandakan bertambahnya rasa sukaku terhadapnya.

Sikap-sikap di atas… apakah masih tergolong ke dalam ‘suka’ atau sudah termasuk ke dalam ‘jatuh cinta?’ Tidakkah itu wajar saat kita menyukai seseorang?

Dan apakah aku berbohong jika saat ditanya lagi aku tetap menjawab dengan kata-kata yang sama…

… Bahwa aku sangat menyukainya, namun belum sampai pada perasaan yang pernah aku punya terhadapnya?

Entahlah.

Rumit.

Aku tak habis pikir mengapa aku bisa terjebak lagi dalam hal seperti ini. Hal yang tak lebih penting dari kesuksesan. Hal yang dapat membuat manusia kehilangan akal sehat. Hal yang telah membuatku ‘mati’ berkali-kali. Hal sepele namun kejam yang bernama cinta.

Apa?

Cinta?

Ah tidak, tidak… Aku tidak sedang jatuh cinta. Percaya lah.

Saat ini aku hanya ingin menikmati perasaan yang sedang kumiliki ini. Rasanya indah, serumit apapun itu. Sejauh apapun, aku tidak akan berlari untuk mengejarnya, karena dia juga tidak berlari menjauh. Dia membiarkanku berjalan santai di atas perasaanku, bahkan sesekali memberiku semangat. Mungkin karena itu rasa sukaku bertahan, bahkan semakin besar…

… entah sampai kapan.

“Kau menyukainya?”

“Sangat. Aku sangat menyukainya.”

You Might Also Like

0 comments