"Move On,"

"Caranya ngelupain dia gimana?"
"Move on,"
"Udah dicoba, tapi masih belom bisa,"
"Cari kesibukan, cari yang lain,"
"Bukannya sombong, tapi banyak yang ngedeketin, yang nembak... Nggak saya terima."
"Kenapa? Gara2 dia?"
*ngangguk* "Haha..."
" Ya ampun... Jangan diharapkan lagi dia itu, nggak bener orangnya,"
"Hahaha... Otak sih mau, tapi hati nggak mau,"
"Adaaa aja..." *nggeleng sambil nyengir*
"Nggak pernah ya jumpa cewek kayak saya?"
"Enggak," *nyengir lagi*
"Kasian ya saya? Hahaha..."
"Dia nya yang nggak berperasaan,"
"Hahaha..."



Aku ingin menghilangkannya. Sangat ingin. Bahkan kalau ada kata yang lebih besar daripada 'ingin', aku akan mempergunakannya. Aku ingin menghilangkan semua hal tentangnya dari daftar komposisi kehidupanku. Dan aku sudah mencoba. Namun dia tetap ada, bahkan semakin jelas. Semakin aku menghapus, sosoknya semakin tergambar.

Jadi siapa yang harus aku salahkan?
Tuhan beserta takdir-Nya yang telah mempertemukan?
Dia yang mendekatiku?
Aku yang mau saja didekati olehnya?
Perasaan yang tak dapat dikendalikan?
Atau cinta yang seenaknya datang tanpa diundang?

Aku tak boleh menyalahkan Tuhan dan takdir-Nya. Dia punya rencana.
Jadi di antara pilihan lain, yang mana yang bisa kusalahkan?

You Might Also Like

0 comments