...

Aku lupa sudah hari ke berapa ini.

Beberapa hari kecuali hari ini aku merasa senang. Bahagia, lebih tepatnya. Aku melalak bersama orang kak Wulan, mendengar cerita mereka tentang malam tahun baru tanpaku, menemani Widia berlatih untuk lomba pidato bahasa Jepang, menggosipkan seseorang dari sesuatu dari yang penting sampai yang tidak penting, dan semacamnya. Aku dapat tertawa dengan ikhlas saat bersama mereka.

Sampai pada semalam, saat aku keluar untuk malam mingguan lagi yang rasanya sudah lama tidak aku lakukan. Pergi melihat lomba pidato di Dharmawangsa (sayangnya Widia tidak menang), lensa baru kamera Sensei, karaoke lagu-lagu galau di Happy Puppy dengan Sensei sebagai investor terbesar, dan Kak Wulan yang sedang galau karena cowok. Itu semua sangat membangkitkan gairah hidupku yang sempat menurun drastis. Saking semangatnya, aku melupakan bahwa aku belum bebas.

Semalam aku ingin sekali datang cepat untuk latihan di Lapangan Merdeka, jadi aku meminta Hafizh untuk datang cepat ke sana; menemaniku. Namun ternyata aku tidak mendapat kunci untuk keluar sebentar dari penjara ini. Sesaat kemudian aku melihat kelam hidupku kembali lagi padaku. Aku kembali kehilangan pengetahuan tentang gunanya menjalani hidup.

Aku tertidur dengan pakaian saat aku akan pergi latihan tadi, dan terbangun di jam 7.

Perasaan bersalahku kepada Hafizh dan yang lainnya sedang menari-nari di benakku. Aku yakin mereka sudah malas untuk berhubungan denganku.

Dan aku sudah memutuskan untuk melakukan hal yang sebelumnya telah terlintas di pikiranku.

Aku berharap semoga tidak ada hal yang akan memperburuk keadaan, ...

... dan semoga hidupku tidak bertambah buruk.

You Might Also Like

0 comments