Unfulfilled Promise

Ah, aku baru teringat akan satu hal. Satu hal yang mungkin akan selalu aku harapkan dan akan selalu menetap di pikiranku.

... Yaitu janjinya untuk menemuiku.

Dia mengatakan bahwa dia akan memenuhi permintaanku untuk menjelaskan segala hal yang menurutku belum jelas, walau baginya tidak ada yang perlu dan penting untuk dijelaskan. Jadi dia berjanji untuk datang ke rumahku (karena dia tidak ingin bertemu di luar).

Hari demi hari telah berlalu.
Kami tak kunjung bertemu.

Hahaha...



Dari sebelum ujian sampai selesai ujian, dia belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan menepati janjinya.

Sebelum ujian prakteknya, saat kutanya, dia sesumbar bahwa dia akan datang ke rumahku lusa. Saat lusa tiba aku kembali bertanya, ternyata dia tidak bisa--lebih tepatnya tidak mau--datang dengan alasan susahnya ujian praktek yang akan dihadapinya. Lalu dia kembali berjanji untuk menemuiku setelah ujian akhir. Baiklah, aku mengerti, bahkan sangat mengerti. Aku tidak akan memaksanya untuk memikirkan hal lain di saat-saat ujiannya. Aku pun menyerah. Kuputuskan untuk menunggu sampai dia tak lagi menanggung beban apapun.

Dan sekarang... tanggal 4 Mei. Sudah hampir 2 minggu berlalu sejak ujian akhir selesai. Seharusnya aku sudah bertemu dengannya. Namun, seperti dugaanku, dia tak berniat untuk menepati janjinya, sedikitpun. Bahkan mungkin dia tak ingat sama sekali bahwa dia memiliki sebuah janji. Hahaha... Selalu hanya aku yang terlalu tinggi berharap.

Apakah aku masih pantas untuk menagih janjiku pada orang yang bahkan aku tak tahu apakah dia orang yang tepat janji atau tidak?

You Might Also Like

0 comments