Friday, 17 June 2016

'Kumohon, Jangan Lagi'


“Sampai di sini saja?” Sakura bertanya dengan nada tak percaya saat Sasuke memberhentikan motornya di depan gang rumah Sakura. Sasuke menolehkan kepalanya ke belakang, memberikan pandangan yang menyiratkan jawaban ‘ya’ pada Sakura. Sembari menghindari tatapan Sasuke, Sakura bertanya lagi, “Kau menurunkan anak gadis di sini? Tidak sampai ke depan rumah?”

“Masuk ke dalam lagi?” tanya Sasuke—Sakura dapat menangkap nada berontak dari suaranya. Tanpa menunggu jawaban dari Sakura, Sasuke kembali melajukan motornya memasuki gang menuju rumah Sakura.

Sakura bukannya sedang bersikap manja atau malas. Dia hanya ingin melihat bagaimana sikap Sasuke terhadapnya, salah satunya dalam hal seperti ini. Dia ingin tahu apakah di balik sikapnya yang dingin menyakitkan, Sasuke akan tetap menganggap dan memperlakukannya sebagai wanita yang pada dasarnya lumrah untuk di’manja’. Seingat Sakura, di antara jumlah berapa kali Sasuke mengantarnya pulang ke rumah, hanya satu atau dua kali Sasuke mengantarnya sampai ke depan pintu dengan ikhlas—tanpa ada suruhan ataupun keluhan.

Wednesday, 18 May 2016

To My Boy-friend: Kita Berteman, Bukan?


Hi, Bro. Boy-friend-ku. Temenku yang berorientasi laki-laki.

Kita berteman, bukan?

Aku perempuan (selama kau menganggapku begitu), kau laki-laki. Aku single, kau tidak ada yang memiliki. Aku manusia, kau orang. Normal, kan? Tidak ada yang salah, kan?

Aku kesepian, kau menemani. Aku bosan, kau membawaku pergi. Aku suram, kau mewarnai. Normal, kan? Tidak ada yang salah, kan?

Aku punya teman, kau juga punya teman. Temanku mengenalmu, temanmu mengenalku. Temanku temanmu, temanmu pun juga temanku. Normal, kan? Tidak ada yang salah, kan?

Lalu mengapa kau bersikap seolah aku bukan temanmu?

Tuesday, 16 February 2016

Unforeseen Strength

That was dark. Very dark fettle.
I wasn't able to get standing on my own foot, or even my with my consciousness.
There were no peps to be rigged out, neither my brain nor my soul.

But then I felt a light came across my vision.
Dangled like a tail, bunch of strength streaked to my bosom.
Splinters the mirk gloom till it became a vivid glow.

I felt like some fingers were holding mine.
Soft ones, clement ones.
Pulse of life was precisely transferred.

I could catch a line of smile, too, that was short in time, but long in savor.
An overpower smile which was never discarded by my memory.
Which I hadn't been beheld protractedly.

And I  last.
Hereupon, thereupon.

That strength...
That unforeseen strength...
... has gotten me alive.




Thursday, 4 February 2016

He Doesn't

"He doesn't love you." My friend said to me.
I've been thinking so from the first time.
And now I'm gruffly convincing my brain that he does not.
I'm trying to not giving any shit about this loss any further.
I've already stepped over my limit thinking about such a thing.





Friday, 22 January 2016

I've Lost You

Rasa kehilangan kembali menjumpaiku.

Ketika beberapa waktu lalu, seseorang mengungkapkan perasaannya padaku.

Saat itu, aku belum bisa mengatakan atau menjawab apapun padanya. Dia mengerti. Dia mengerti bahwa aku tidak dapat membalas perasaannya, dan dia mengerti bahwa aku bukanlah orang yang mudah menolak orang lain.
"If you feel bothered with that, just forget about it. I'm okay."
Tidak. Aku sama sekali tidak merasa terganggu ataupun terbebani soal itu. Sungguh. Aku cuma ... tidak tahu ... apa yang harus kukatakan agar rasa kecewanya tidak terlalu dalam.

Friday, 27 November 2015

Kau dan Alasanmu


Kau... Apakah kau tahu?

Apakah kau tahu bagaimana perasaanku saat akhirnya aku dapat melihatmu lagi setelah beberapa waktu? Kau berjalan melewatiku, tanpa pandangan, tanpa sapaan. Seperti biasa. Ya, seperti biasa. Memang hanya aku yang merasakan betapa lamanya waktu berjalan saat kehilanganmu, dan memang hanya aku yang masih penasaran akan kehidupanmu.

Apakah kau tahu seberapa mengertinya aku akanmu, sehingga aku mencegah diriku sekeras mungkin agar aku tak berharap sedikitpun bahwa setidaknya kau akan memandangku saat kau melihatku? Aku tahu hal itu tak akan terjadi bahkan sampai buah durian kehilangan duri.

Apakah kau tahu apa yang kulakukan setelah pertemuan kita yang tak kuharapkan itu? Aku mencari tahu apa arti debaran di jantungku saat mataku menangkap sosokmu yang sedang berdiri di sekitarku, padahal rasa kesal yang besar juga sedang mengitari kepalaku karena melihatmu.

Thursday, 17 September 2015

Thank You for Visiting


Malam itu, pukul 8.30 di hari Minggu, seseorang merampas tas—yang kukenakan menyilang dari bahu kiri sampai pinggang kananku—secara cepat dari arah kanan belakang. Seseorang itu berada di atas sepeda motor yang dikemudikan oleh temannya. Dengan tangan kirinya dia menarik tali tasku dari punggungku. Sedetik kemudian aku tersungkur ke atas aspal dan terseret karena tangan kananku masih menahan tali tas. Karena takut akan kendaraan lain yang bisa saja menggilasku, aku melepaskan genggaman tanganku di tali tas itu. Lalu, dalam hitungan detik juga, kedua pria itu menghilang di antara gelapnya bayangan pohon dan kilauan cahaya lampu kendaraan.

Saat sepeda motor itu mendekatiku, saat suara mesinnya terdengar di telingaku, dan saat tiba-tiba merasakan angin berhembus dengan kencang dari arah kananku, sebenarnya aku sudah merasa bahwa aku akan dirampok lagi, karena itu aku mencoba sebisa mungkin untuk menahan tasku. Namun karena aku terkejut, kekuatanku tidak cukup besar untuk menahan tarikan laki-laki itu—lagipula dia dibantu oleh kekuatan sepeda motor. Jadi, aku terjatuh ke jalan dengan mudahnya.