"I am taking this in, slowly,
Taking it into my body.
This grief. How slow
The body is to realize
You are never coming back."
▬
Sunday, 13 April 2014
Friday, 11 April 2014
Make It or Not
"... Bulggogi! Kalok udah liat iklan itu gilak ingat si Kaka aja Pani," ujar adikku saat dia sedang sibuk mengerjakan tugas Bahasa Jepang nya dan aku sibuk online di hp. Aku tertawa.
"Nggak ngerti tu pasti," katanya karena aku tidak berkata apa-apa.
"Ngerti... Ngerti..."
"Liat iklan itu, kuingat dia~" dia bernyanyi dengan suara false-nya. Aku terkekeh. "Liat Justin Bieber, kuingat dia~"
"Justin Bieber? Serius?" tanyaku meragukan bahwa dia teringat anak itu kalau melihat Justin Bieber.
"Iya..."
"Ah, Kakak aja nggak sampek segitunya,"
"Liat serigala, kuingat dia~"
"Gyahahahahahaha... Buat status itu! Eh, tapi kakak aja lah yang buat. Tapi jangan serigala lah, nampak kali. Oh--Twilight! Siapa nama pemeran si Taylor itu? Eh, maksudnya nama peran si Taylor," kataku dalam keadaan terjungkang-jangkeng (?)
"Jacob. Jangan Twilight lah, kan bukan khusus serigala itu, itu vampir..."
"Siapa nama panjangnya Jacob? Iya lah buat status itu lah," kataku, tidak menghiraukan nasihatnya. Lalu aku mulai bertanya pada Om Gugel tentang nama lengkapnya si Jacob.
"Nggak tau Pani," jawabnya sambil melanjutkan tugasnya.
Beberapa lama kemudian aku kembali bertanya pada adikku, "Yakin, Pan, kakak buat status itu?"
"Kenapa enggak?"
Hah~ Sampai sekarang aku belum memutuskan untuk membuat status itu atau tidak.
Buat, tidak, ya?
"Nggak ngerti tu pasti," katanya karena aku tidak berkata apa-apa.
"Ngerti... Ngerti..."
"Liat iklan itu, kuingat dia~" dia bernyanyi dengan suara false-nya. Aku terkekeh. "Liat Justin Bieber, kuingat dia~"
"Justin Bieber? Serius?" tanyaku meragukan bahwa dia teringat anak itu kalau melihat Justin Bieber.
"Iya..."
"Ah, Kakak aja nggak sampek segitunya,"
"Liat serigala, kuingat dia~"
"Gyahahahahahaha... Buat status itu! Eh, tapi kakak aja lah yang buat. Tapi jangan serigala lah, nampak kali. Oh--Twilight! Siapa nama pemeran si Taylor itu? Eh, maksudnya nama peran si Taylor," kataku dalam keadaan terjungkang-jangkeng (?)
"Jacob. Jangan Twilight lah, kan bukan khusus serigala itu, itu vampir..."
"Siapa nama panjangnya Jacob? Iya lah buat status itu lah," kataku, tidak menghiraukan nasihatnya. Lalu aku mulai bertanya pada Om Gugel tentang nama lengkapnya si Jacob.
"Nggak tau Pani," jawabnya sambil melanjutkan tugasnya.
Beberapa lama kemudian aku kembali bertanya pada adikku, "Yakin, Pan, kakak buat status itu?"
"Kenapa enggak?"
Hah~ Sampai sekarang aku belum memutuskan untuk membuat status itu atau tidak.
Buat, tidak, ya?
Tuesday, 8 April 2014
Early Rise
Pagi ini aku terbangun di jam setengah 6. Entah apa yang membuatku bangun secepat ini. Padahal hari ini ujian; di hari kuliah biasa saja aku bangun jam 7.
Aku terbangun dengan headset masih menempel di kedua telingaku. Setelah mematikan pemutar lagu, aku melihat jam, lalu membatin, 'cuma tidur 3 jam...' tapi aku tidak mengantuk.
Apa ini termasuk hal normal...bagiku?
Aku terbangun dengan headset masih menempel di kedua telingaku. Setelah mematikan pemutar lagu, aku melihat jam, lalu membatin, 'cuma tidur 3 jam...' tapi aku tidak mengantuk.
Apa ini termasuk hal normal...bagiku?
Monday, 7 April 2014
The Attentive Gaze
Pukul 1.40 AM. Aku masih terjaga. Mataku masih segar menatap layar hp, dan tanganku masih belum lelah mengotak-atiknya. Sembari mendengarkan lantunan lagu-lagu yang mengalir lewat wayar headsetku, aku melakukan apa yang bisa aku lakukan di hp, seperti SMS-an dan BBM-an. Aku sedang SMS-an dengan teman cowokku, dan BBM-an dengan teman cewekku.
Di sela-sela itu, beberapa saat lalu, aku tiba-tiba terpikir akan orang yang aku sedang SMS-an dengannya itu. Ingatanku terbawa ke saat aku sedang menangis di depan rumah seseorang. Aku berjongkok di sudut teras rumah itu, dan temanku itu juga berjongkok tepat di depanku. Saat itu aku sedang gundah, bingung akan apa yang harus dilakukan, frustrasi. Satu-satunya yang dapat aku lakukan adalah menangis; mengeluhkan apa yang sedang aku rasakan.
Di sela-sela itu, beberapa saat lalu, aku tiba-tiba terpikir akan orang yang aku sedang SMS-an dengannya itu. Ingatanku terbawa ke saat aku sedang menangis di depan rumah seseorang. Aku berjongkok di sudut teras rumah itu, dan temanku itu juga berjongkok tepat di depanku. Saat itu aku sedang gundah, bingung akan apa yang harus dilakukan, frustrasi. Satu-satunya yang dapat aku lakukan adalah menangis; mengeluhkan apa yang sedang aku rasakan.
Sunday, 6 April 2014
I am Not
Ia bangun setiap pagi dengan keinginan untuk melakukan segalanya dengan benar, menjadi seseorang yang baik dan berarti, menjadi sesederhana yang terdengar, dan setidakmungkin apapun itu, menjadi bahagia.
Dan di setiap harinya hatinya akan turun dari dadanya ke perutnya.
Di sore hari ia dikuasai oleh perasaan bahwa tidak ada yang benar, atau tidak ada yang benar bagi dirinya, dan oleh keinginan untuk sendiri.
Di malam hari ia merasa puas, sendirian di dalam besarnya rasa sedihnya, sendirian di dalam rasa bersalahnya yang tak berarah, sendirian bahkan di dalam rasa sepinya.
Dan di setiap harinya hatinya akan turun dari dadanya ke perutnya.
Di sore hari ia dikuasai oleh perasaan bahwa tidak ada yang benar, atau tidak ada yang benar bagi dirinya, dan oleh keinginan untuk sendiri.
Di malam hari ia merasa puas, sendirian di dalam besarnya rasa sedihnya, sendirian di dalam rasa bersalahnya yang tak berarah, sendirian bahkan di dalam rasa sepinya.
Wednesday, 2 April 2014
Fear and Guilt
Mama membelikanku tas baru. Jenis yang sama (tas ransel) dan warna yang sama (coklat), hanya modelnya saja yang berbeda. Yang baru ini tidak ada penutup tasnya, dan aku kurang suka modelnya. Tapi bukan itu yang kupermasalahkan. Mama bersikeras menyuruhku untuk menggunakannya.
Kalian tahu... Trauma itu masih tertancap dalam. Aku takut, seolah-olah kejadian malam itu akan terjadi lagi dengan mudahnya. Saat aku menyampirkan tas ini di punggungku, seperti tergores sesuatu, hatiku terasa sakit. Adegan itu kembali terputar di kepalaku, beberapa kali. Rasanya batinku belum siap untuk mengizinkan diriku memakai tas ini.
Kalian pasti berpikir bahwa aku ini berlebihan, kan? Hanya kejadian seperti itu saja tidak bisa diikhlaskan.
Maaf, seperti inilah aku. Mengikhlaskan saja aku belum mampu, apalagi melupakan. Bukan masalah harga, tapi masalah ingatan. Ingatan itu terus memberiku bayangan akan rasa takut...
... dan rasa bersalah.
Mengapa kehilangan itu begitu menyakitkan?
Kalian tahu... Trauma itu masih tertancap dalam. Aku takut, seolah-olah kejadian malam itu akan terjadi lagi dengan mudahnya. Saat aku menyampirkan tas ini di punggungku, seperti tergores sesuatu, hatiku terasa sakit. Adegan itu kembali terputar di kepalaku, beberapa kali. Rasanya batinku belum siap untuk mengizinkan diriku memakai tas ini.
Kalian pasti berpikir bahwa aku ini berlebihan, kan? Hanya kejadian seperti itu saja tidak bisa diikhlaskan.
Maaf, seperti inilah aku. Mengikhlaskan saja aku belum mampu, apalagi melupakan. Bukan masalah harga, tapi masalah ingatan. Ingatan itu terus memberiku bayangan akan rasa takut...
... dan rasa bersalah.
Mengapa kehilangan itu begitu menyakitkan?
Tuesday, 1 April 2014
Kimi... Hansamu
Sayang, kamu tau nggak... Aku suka liat cowok make jas. Di mataku, cowok yang lagi make jas itu keliatan keren, karena jas itu bisa nutupin kekurangan dan nambah hal plus si pemake. Apalagi jasnya warna item. Yang badannya kurus jadi keliatan berisi dan tegap, yang badannya gemuk jadi keliatan proporsional. Jas juga bisa buat nyamarin kulit yang gelap (kayak body lotion :v), apalagi yang make jas itu orangnya putih, wih... bisa ngiler-ngiler adek liatnya, bang.
Jadi, kenapa aku tiba-tiba cerita begini? Karena waktu itu aku ngeliat kamu, Sayang. Kamu lagi make jas. ^^ Kamu make jas item, dasi, dan kacamata. Sumpah demi masa depan kamu, aku bener-bener pangling ngeliat penampilan kamu begitu. Ah, aku nyesel waktu itu aku langsung pergi pas temen kamu manggil kamu buat aku. Seharusnya aku bisa ngeliat kamu lebih lama di situ.
Kamu yang notabenenya bertubuh tinggi jadi keliatan tambah tinggi. Postur kamu jadi tegap, proporsional gitu. Wajah kamu keliatan berseri. Apalagi kamu make kacamata, kamu terkesan cerdas dan pekerja keras. Selain jadi dokter, ternyata kamu cocok juga jadi pria kantoran. Manajer, mungkin? Hahaha...
Sayang, aku suka sekali ngeliat kamu berpenampilan begitu. Mungkin bukan cuma menurutku. Aku yakin, cewek-cewek lain yang ngeliat pasti juga berpendapat gitu. Buktinya, pas ngeliat foto kamu dengan penampilan itu, temen-temenku bilang kamu ganteng, bahkan pake 'kali'. Hahaha...
Well, intinya, aku mau bilang...
... Sayang, kamu tampan.
Kapan kamu pake jas dan kacamata lagi?
P.S.:
Aku lagi duduk di City Ice Cream Palladium. Sendirian. Tanpa teman. Okai. Akurapopo.
Jadi, kenapa aku tiba-tiba cerita begini? Karena waktu itu aku ngeliat kamu, Sayang. Kamu lagi make jas. ^^ Kamu make jas item, dasi, dan kacamata. Sumpah demi masa depan kamu, aku bener-bener pangling ngeliat penampilan kamu begitu. Ah, aku nyesel waktu itu aku langsung pergi pas temen kamu manggil kamu buat aku. Seharusnya aku bisa ngeliat kamu lebih lama di situ.
Kamu yang notabenenya bertubuh tinggi jadi keliatan tambah tinggi. Postur kamu jadi tegap, proporsional gitu. Wajah kamu keliatan berseri. Apalagi kamu make kacamata, kamu terkesan cerdas dan pekerja keras. Selain jadi dokter, ternyata kamu cocok juga jadi pria kantoran. Manajer, mungkin? Hahaha...
Sayang, aku suka sekali ngeliat kamu berpenampilan begitu. Mungkin bukan cuma menurutku. Aku yakin, cewek-cewek lain yang ngeliat pasti juga berpendapat gitu. Buktinya, pas ngeliat foto kamu dengan penampilan itu, temen-temenku bilang kamu ganteng, bahkan pake 'kali'. Hahaha...
Well, intinya, aku mau bilang...
... Sayang, kamu tampan.
Kapan kamu pake jas dan kacamata lagi?
P.S.:
Aku lagi duduk di City Ice Cream Palladium. Sendirian. Tanpa teman. Okai. Akurapopo.
Subscribe to:
Posts (Atom)